logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 02 Januari 2006 SEMARANG
Line

Tahu Terpuruk, Pedagang Tertolong Penjualan Tempe

TIDAK seperti biasanya, wajah ceria seakan tersembunyi dari pedagang tahu Bandungan di Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Minggu (1/1). Maklum, beberapa bulan sebelumnya tatkala hari libur tiba, raut muka puluhan penjual yang berjajar di sepanjang jalan kawasan Bandungan itu, berseri.

Ya, para pedagang tersebut wajar saja jika tidak sesumringah dulu saat belum ada isu penggunaan formalin pada sejumlah makanan. Namun, ketika isu penggunaan formalin mulai mencuat di media beberapa waktu lalu, praktis tingkat penjualan tahu berlabel Serasi itu pun turun drastis.

Subiyati (45), seorang pedagang tahu mengaku sangat gelisah dengan munculnya pemberitaan mengenai adanya penggunaan zat pengawet jenazah pada makanan. Apalagi, pembubuhan formalin berkaitan dengan produk makanan yang diolahnya secara alamiah.

"Kami tidak mengenal apa itu formalin," jelas wanita berjilbab itu di kiosnya, Minggu (1/1).

Wanita yang dipercaya sebagai Ketua Kelompok Tani Wanita Damai di Dusun Karanglo, Desa Kenteng, Kecamatan Ambarawa itu, menegaskan hingga liburan Tahun Baru ini tingkat penjualan tahu bertekstur padat, kenyal, dan lembut itu belum juga naik. "Penurunan bisa dikatakan lebih dari 50%. Kalau sebelumnya saya bisa menjual 100 bungkus setiap hari libur, hingga sore ini baru laku terjual 20 bungkus," terang dia.

Harga per bungkus tahu Bandungan yang kini diberi tanda tulisan "Tanpa Formalin" tersebut Rp 8.000, berisi 10 tahu. "Kalau sudah dalam bentuk gorengan menjadi Rp 9.000/bungkus dengan isi 10 buah tahu," terang dia.

Subiati mengaku sebelum ada isu formalin dia dapat mereguk untung bersih Rp 200.000/ hari. "Sekarang ini dapat untung Rp 50.000 saja sudah bersyukur," tuturnya.

Tertolong Tempe

Meski tingkat penjualan tahu tidak sebaik sebelumnya, para pedagang mengaku sedikit terhibur, karena pendapatan mereka dapat terkatrol dari penjualan tempe Bandungan. Tingkat penjualan produk berbahan kedelai itu, diakuinya naik hingga 100%.

Menurut Subiati, jika sebelumnya dalam sehari bisa menjual 100 tempe, maka akhir-akhir ini dia mampu menjual 200 buah. "Sebagian orang ragu mengonsumsi tahu, akhirnya mereka memilih makan tempe. Yang paling banyak membeli tahu biasanya para tamu hotel di kawasan Bandungan," tutur dia.

Harga setangkup tempe Bandungan Rp 500. Selain tahu dan tempe, para anggota Kelompok Tani Wanita Damai pimpinan Subiati, juga membuat aneka produk makanan dan minuman, seperti susu kedelai, jamur untuk sayuran, torakur (tomat rasa kurma), dan jadah. (Rony Yuwono-37)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA