logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 02 Januari 2006 SEMARANG
Line

Serangan DB Meningkat

  • 41 Penderita, Enam Meninggal

KENDAL - Jumlah penderita penyakit demam berdarah (DB) di wilayah Kendal, dalam satu bulan terakhir, melonjak tajam. Akhir November lalu baru tercatat 19 penderita dan akhir Desember meningkat dua kali.

Berdasar data Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK), hingga akhir tahun 2005, jumlah penderita positif DB 41 orang. Dari jumlah tersebut, enam di antaranya meninggal. Sebelumnya (November), korban meninggal akibat penyakit itu baru tercatat tiga orang atau korban meninggal bertambah tiga orang.

Tiga korban yang meninggal terakhir adalah Farah Putri Agustin (4 tahun enam bulan), warga Perumahan Kaliwungu Indah RT 2 RW 10 Desa Protomulyo, Kaliwungu. Ia meninggal di rumah sakit Roemani Semarang, Selasa (22/11). Kemudian Nurul Aisah (7 bulan) beralamat di Dukuh Kedungrombong RT 3 RW 6 Desa Sarirejo, Kaliwungu, meninggal di RSUD dr Soewondo Kendal, Senin (12/12). Juga Rizkiya (7), warga Desa Tlahap RT 3 RW 3, Kecamatan Gemuh, meninggal di RSDK Kariadi Semarang, Minggu (8/12).

Seperti diberitakan (SM, 3/12), tiga penderita DB yang meninggal sebelumnya adalah Nur Imatul Mukharomah (3), warga Dusun Klepu RT 7 RW 2 Desa/Kecamatan Ringinarum dan Siti Ulyana (16), warga Dusun Bakalan RT 2 RW 4, Desa/Kecamatan Ringinarum. Keduanya meninggal saat dirawat di rumah sakit, masing-masing Minggu (6/11) dan Rabu (9/11). Korban ketiga, Sinta (4), beralamat di RT 10 RW 10 Perumahan Kaliwungu Indah. Balita tersebut meninggal ketika dirawat di RSUD dr Soewondo.

PSN Rendah

"Salah faktor yang menyebabkan tingginya angka penderita DB, karena kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui kegiatan 3M (menguras, menutup, dan mengubur) sangat rendah. Indikasi itu dapat diketahui dari angka bebas jentik (ABJ)," kata Kepala DKK, dokter Kadar Suyanto, melalui Kasie Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang (P2B2), Hadi Suryanto, kemarin.

Secara umum, serangan penyebaran penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk aedes aegypti tersebut terjadi di daerah Kendal bagian bawah. "Sejumlah desa di Kendal bagian bawah dapat dikategorikan sebagai daerah endemis dengan ABJ relatif rendah, yaitu sekitar 70%," jelasnya.

Artinya, lanjut dia, dari 100 rumah warga yang dijadikan sampel acak pemeriksaan jentik, diketahui 30 rumah di antaranya positif terdapat jentik nyamuk. "Berarti hanya 70% rumah yang dinyatakan ABJ. Sejauh ini, kami telah melakukan pengasapan atau fogging terhadap 71 desa endemis, yang diprediksi akan menimbulkan kejadian luar biasa (KLB)," ungkapnya.

Dana pengasapan berasal dari pos dana tersangka APBD Kendal Rp 20 juta, tambah dia, sudah dikucurkan. "Besaran dana itu telah habis dialokasikan untuk keperluan pengasapan di 71 desa itu. Selain pengasapan, guna mengendalikan risiko penularan penyakit DB, kami telah menggerakkan poliklinik kesehatan desa (PKD).

Dijelaskannya, PKD berada di 14 desa, yang tersebar di sejumlah wilayah kecamatan, antara lain, di Kecamatan Pegandon, Ngampel, Patebon, Kendal, serta Brangsong. "Petugas bidan desa, yang ada di PKD, memberikan sosialisasi pencegahan, pemberantasan, dan pengendalian faktor penyakit DB. "Untuk setiap PKD mendapat alokasi dana dari APBD I Rp 1 juta," tambahnya. (G15-18h)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA