logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 02 Januari 2006 SEMARANG
Line

Pemilihan Ratu Batik Waria

Senyum OK, Jalannya Kurang ''Endang''

MODEL pakaian wanita dengan badan tinggi langsing itu biasa. Apalagi jika peragawati tersebut seorang wanita cantik dengan kulit halus bak pualam. Tepuk tangan dan sorak sorai penonton sudah dipastikan akan bergemuruh menyambut penampilan mereka.

Tapi bagaimana jika model yang tengah membawakan busana wanita tersebut bukanlah seorang wanita yang memiliki tubuh langsing, bahkan bisa dikatakan sedikit gemuk. Apakah tepukan penonton juga akan beda?

Ternyata tidak. Sambutan penonton yang menyaksikan deretan model yang memperagakan busana wanita dalam "Pesona Budaya Indonesia" malah bisa dikatakan jauh lebih meriah. Tak percaya? itulah yang terjadi dalam pemilihan Ratu Batik Waria yang diselenggarakan DPC Tiara Kusuma Semarang bekerja sama dengan Duta Budaya Permadani, Disparbud Kota Semarang, Dekase, Museum Ronggowarsito, dan La Tulipe, belum lama ini.

Sepanjang peragaan, para penonton yang memenuhi gedung pertemuan Museum Ronggowarsito Jl Abdulrahman Saleh 1, tempat pementasan diselenggarakan, tak henti-hentinya berseloroh. Bahkan sesekali penonton menimpali dengan siulan penuh goda.

Decak kagum para penonton tersebut agaknya tidak bisa dikatakan berlebihan, jika melihat para model melenggak-lenggok bak seorang model kampiun. Meski bukan seorang wanita tulen, penampilan mereka tak mau kalah. Gemulai langkah kaki dan gaya anggun, dan bahkan sedikit menggoda, mampu membuat sebagian penonton terpengarah menyaksikannya. "Wah, aku yang wanita asli aja kalah cantik,'' kata Taufan, salah seorang pengunjung.

''Gilingan''

Tak hanya penonton, derai decakan ternyata juga keluar dari mulut rekan sesama waria para peserta. "Gilingan (gila), ternyata Dea eyes (cantik) banget ya,'' ujar Imel dari balik panggung.

Sementara itu, saat Suara Merdeka menemui para peserta dari balik panggung usai pementasan, suasana riuh masih terdengar tatkala kritikan terlontarkan atas penampilan mereka. Celetuk-celetuk yang mereka lontarkan terdengar menggelitik dengan selipan kata-kata dalam bahasa gaul yang biasa digunakan komunitas mereka.

"Kamu tuh senyumnya udah ok banget, tapi jalannya kurang endang (enak) dilihat. Kelihatan kaku bo','' celetuk salah seorang waria pada temannya yang menjadi peserta.

Sontak sang teman yang mendapat kritikan tersebut menjawab polos,''Habis gimana, korsetnya bikin aku sineg-sineg (susah napas).''

Padahal kalau ditilik lebih jauh, para peserta tersebut sebagian besar sudah pernah mengikuti lomba serupa. Sherli misalnya, salah seorang peserta mengaku sering mengikuti kontes sejenis di beberapa tempat. Waria yang mengubah namanya dari Slamet menjadi Sherli itu, jika pagi tiba juga seorang pekerja salon. "Dulu saya pernah punya salon, tapi kini sudah nggak lagi. Habis tak ada waktu, kebanyakan nyebong (mejeng) sih,'' tuturnya sembari terbahak lepas.

Kendati demikian, tak semua waria terlihat canggung. Ada sebagian di antara mereka yang begitu percaya diri. Salah satunya Dea Nadia Agustia (26). Waria yang sekilas mirip penyanyi Audy itu, begitu mantap saat di panggung. Maklum, menurut pengakuannya, dia pernah masuk lima besar saat mengikuti lomba Miss Thailand di Jakarta pada 2003 lalu. Sebelum acara ini, di tempat itu juga dilaksanakan lomba rias wajah pengantin untuk umum. (Roosalina, Fahmi ZM-18v)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA