| Senin, 02 Januari 2006 | SEMARANG |
Dari Guru Jarkoni hingga Fenomena Kiki FatmalaNgelmu iku kalakone kanthi laku, Lekase lawan kas, tegese kas nyamkosani Setya budya pangekese dur angkara ''SEBAGAI pendidik, guru adalah pelaku utama dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Tapi, apakah selama ini guru mampu membuktikan bahwa proses pembelajarannya terhadap peserta didik telah pula menanamkan nilai-nilai budaya, mencegah tindakan jahat?'' ucap pakar pendidikan, Dr Tukiman Taruna Sayoga, dalam ''Refleksi Akhir tahun 2005 Unnes'' di Auditorium Jl Kelud Raya No 2, Jumat (30/12) malam. Tukiman mencoba menggugah kesadaran para ''pahlawan tanpa tanda jasa'' atas apa yang mereka perbuat selama ini, dengan nembangmacapat Pucung. Syair yang termaktub dalam macapat tersebut, sungguh sangat relevan dengan profesi pendidik. Selama ini, sejauh mana para guru mengamalkan ilmu, yang diperoleh, untuk diberikan kepada para murid? Mampukah ilmu yang dikuasai mencegah perbuatan tercela. Melalui tembang Pucung, dia menggiring peserta, apakah ilmu telah dicapai dengan laku serta niat yang teguh bisa mengatasi segala godaan rintangan dan kejahatan? Dia pun mengutip hasil sebuah penelitian, dari sekian jam yang diperuntukkan untuk bekerja bagi orang Indonesia, ternyata hanya 25% yang digunakan untuk bekerja, sedangkan sisanya 75% untuk kegiatan lain. ''Jangan-jangan, kondisi itu juga terjadi di lingkungan kerja perguruan tinggi, yakni hanya 50% yang digunakan untuk bekerja. Padahal, perguruan tinggi seharusnya menjadi cagar budaya dan pelaku ilmu pengetahuan. Kemudian mampukah universitas memegang teguh kejujuran ilmiah,'' kata dosen pascasarjana Unnes itu, ketika didaulat menjadi pembicara bersama Prof Dr Retno Sriningsih Satmoko, Rektor Unnes Dr AT Soegito SH MM, Prof Dr Retmono, Prof Drs Hartono Kasmadi MSc, dan Pemred Suara Merdeka, Sasongko Tedjo SE MM. Melalui bait-bait syair yang tertulis dalam tembang Pucung, Tukiman mengajak segenap komponen Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) terbesar di Jateng itu melakukan refleksi diri. Mengevaluasi diri, apa yang bisa dilakukan selama ini. Beralas Tikar Serius tapi santai, itulah kesan refleksi akhir tahun Unnes, yang dipandu Pembantu Rektor bidang Akademik Unnes, Prof Dr Munggin Eddy Wibowo MPd, tersebut. Lihat saja, baik pemberi materi maupun peserta hanya duduk lesehan beralaskan tikar. Suguhannya pun sungguh ''njawani'', yakni, ketela rambat, uwi, pisang, dan kacang, yang semuanya direbus. Sambil menguyah makanan rakyat tersebut, para kaum cerdik cendikiawan itu mencoba ''mblejeti'' diri sendiri. Mencari dosa-dosa kesalahan masa lalu, agar di tahun 2006 tak terulang lagi. Adalah guru besar ilmu pendidikan Unnes, Prof Retno, telah menangkap tanda-tanda degradasi pendidikan Indonesia. Ujian Nasional (UN), yang merupakan komponen penentuan kelulusan siswa SMP dan SMA, hanya mengujikan tiga mata pelajaran, yang kesemuanya hanya mengedepankan aspek kognitif, sedangkan aspek afektif atau rasa pangrasa terabaikan. Pendidikan olah rasa yang terdapat dalam spiritual quotient dan emotional quotient sebagai penyeimbang jiwa anak-anak, yang sedang tumbuh dan berkembang, tak mendapat porsi semestinya. Gara-gara UN, mata pelajaran itu tersisih, tersingkir, dan hanya berfungsi sebagai pelengkap. ''Akhir-akhir ini, banyak pelajar yang memilih mengakiri hidup ketika menghadapi persoalan. Sebab, di sekolah penanaman nilai-nilai, moral, dan pertanggungjawaban tak lagi mendapat perhatian. Falsafah urip sakeparengipun, sebutuhnya, dan seperlunya seperti diajarkan Ki Ageng Suryamentaraman pada tahun 1931, tak lagi ditekankan kepada murid,'' katanya. Sekolah sekarang sudah berubah arah. Aspek kognitif yang dinomorsatukan membuat siswa seakan diring untuk berebut harta benda dan kekuasaan, baik untuk diri sendiri, orang lain, dan kelompok. Di sisi lain, banyak guru yang hanya ''jarkoni''. Bisa mengajar tapi tidak bisa ngelakoni (melaksanakan-Red). Prof Retno lalu menyoal terhadap tayangan televisi tentang kasus perseteruan antara artis Kiki Fatmala dengan ibunya. Di televisi, sang ibu yang menyatakan sumpah serapah terhadap putrinya, karena merasa tak dihargai. ''Jangan-jangan hal ini akibat kekeliruan lembaga pendidikan manakala Kiki kecil. Sebab, dalam ilmu pendidikan, pada dasarnya setiap manusia mendidik untuk diri sendiri, keluarga, dan masyarakat,'' ungkapnya. (Widodo Prasetyo-18h) |