logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 02 Januari 2006 SEMARANG
Line

Jual Daging Glonggong, Bukan Salah Pedagang

MARAKNYA penjualan daging glonggong baik di pasar tradisional maupun modern ternyata tak luput dari peran masyarakat. Sebagai konsumen, mereka juga memiliki peran penting dalam mendukung maraknya penjualan daging tersebut.

Permintaan daging oleh masyarakat dengan harga murah, menurut Kasi Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kota Semarang dokter hewan Totok Susanto relatif tinggi. "Hal inilah yang mendorong para pengusaha pemotongan hewan untuk menjual daging glonggong,'' kata dia.

Mereka, jelas Totok, biasanya memberi minum sapi-sapi yang akan disembelih hingga lemas. "Bahkan beberapa dari sapi tersebut diberi minum hingga mati. Jadi, tidak menutup kemungkinan daging glonggong yang dijual tersebut berupa bangkai karena sapi sudah mati sebelum disembelih,'' ungkap dia.

Jika diperhitungkan secara lebih teliti, harga daging glonggong, papar Totok, sebenarnya lebih mahal. Sebab daging glonggong tersebut saat dimasak akan mengalami penyusutan. Penyusutannya pun relatif cukup besar. "Dalam satu kilogram daging glonggong, penyusutannya yang terjadi bisa sampai tiga ons,'' ujar dia. Dengan melihat penyusutan itu, daging tersebut terhitung lebih mahal.

Pembusukan yang terjadi pada daging glonggong dinilai lebih cepat jika dibandingkan daging kering. Pada daging kering, delapan jam setelah pemotongan kualitasnya masih baik dan layak untuk dikonsumsi. Sementara itu, daging glonggong pada jangka waktu yang sama kualitasnya menurun. "Daging tersebut sudah tidak layak dikonsumsi,'' tandasnya.

Warnanya pun, imbuh Totok, sudah mulai terlihat kebiru-biruan. Di samping itu, delapan jam setelah pemotongan maka daging tersebut akan mengeluarkan bau yang berbeda. "Baunya tidak enak. Jika sudah menunjukkan ciri-ciri seperti itu daging tersebut bisa membahayakan kesehatan,'' papar dia.

Dari segi fisik, daging glonggong memiliki banyak perbedaan dibandingkan daging kering. Menurutnya, warna daging glonggong merah pucat. Selain itu jika ditekan terasa lebih lembek dan mengeluarkan air. Biasanya para konsumen tidak menyadari bahwa yang dibelinya itu merupakan daging glonggong.

Mereka mengira air yang terdapat pada bungkus daging tersebut adalah air yang berasal dari es yang mencair. Padahal, air tersebut merupakan air yang berasal dari dalam daging itu sendiri.

Pemerintah saat ini masih memberi toleransi pada para penjual daging glonggong. "Tapi jika memang daging glonggong tersebut sudah dalam kondisi rusak, maka kami tetap akan menyita,'' tegasnya. (Roosalina-56v)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA