| Senin, 02 Januari 2006 | SEMARANG |
22.956 Usaha Rentan Gunakan Pengawet
SEMARANG - Meluasnya pemakaian zat pengawet berbahan kimia oleh masyarakat disebabkan kurangnya pemahaman tentang bahaya zat tersebut. Dalam catatan Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Jateng, ditemukan 22.956 unit usaha industri rumah tangga makanan ataupun jamu tradisional di Jateng rentan memakai bahan kimia pengawet. ''Kecenderungan itu terjadi, karena makanan yang diproduksi terbatas daya tahannya, sehingga mereka memakai zat kimia sebagai upaya memperpanjang umur makanan. Selain itu, adanya keinginan produsen untuk menambah daya tarik makanan yang dihasilkannya,'' kata dokter Usman Suteja, Ketua Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Kota Semarang, di sela-sela pelantikan pengurus organisasi kesehatan itu, Minggu (1/1), di Gedung Juang 45 Semarang. Menurut dia, ketidakpahaman itu tercermin dari perilaku masyarakat dalam memilih makanan, yang akan dikonsumsi. Mereka cenderung memilih yang penampilannya menarik serta baunya lebih sedap dibandingkan bahan dasarnya, dengan mengesampingkan bahaya. Pelantikan Pengurus BSMI Kota Semarang dihadiri tak kurang dari 200 orang. Tampak hadir Asisten Tata Praja Setda Kota Semarang, Sumargono; Kepala Sub Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan, dokter Susanti Mkes; Ketua MUI, Drs Abdul Karim Assalawi MA; dan berbagai tokoh masyarakat dan lembaga kesehatan. Hadir pula Ketua Pengurus Pusat BSMI, dokter Agus Kusmantoro, yang melantik para pengurus BSMI Kota Semarang. Usman menerangkan, bagi para produsen, pemahaman akan bahaya penggunaan bahan pengawet, juga harus diikuti pemahaman tentang metode pengawetan yang aman, misalnya, dengan melakukan pengeringan, pendinginan, dan penggunaan garam. ''Satu-satunya jalan untuk mencegah merebaknya pengggunaan bahan pengawet, dengan meningkatkan pemahaman kesadaran dan risiko penggunaan bahan tersebut,'' tegas dia. Penyuluhan tentang identifikasi makanan berpengawet yang mempunyai risiko tinggi, juga harus gencar dilaksanakan di berbagai kalangan. Terutama kalangan ibu-ibu rumah tangga melalui penyuluhan PKK, posyandu, arisan, ataupun pengajian. "Hukum pasar harus diikuti. Kita sadarkan dulu konsumennya, maka produsen dengan sendirinya mengikuti," tandas Usman. Sementara itu, dalam sambutannya, Susanti menyatakan, diharapkan lembaga sosial turut berperan dalam penyadaran kesehatan masyarakat. Sebab, pemerintah tak mungkin mampu menjangkau semuanya. BSMI sebagai salah satu lembaga sosial, yang bergerak di bidang kesehatan, diminta turut berperan aktif dalam upaya pemahaman hidup sehat. Agus Kusmantoro, dalam sambutannya, mengatakan, BSMI akan terus meningkatkan perannya dalam Program Indonesia Sehat 2010, yang digagas pemerintah. Jajaran BSMI akan turun langsung ke kantong-kantong masyarakat, yang membutuhkan penyadaran dan pelayanan kesehatan. Selama ini, lanjut Agus, BSMI telah banyak terlibat dalam berbagai aktivitas di seluruh Indonesia, di antaranya, aksi sosial kesehatan di Aceh, Nusa Tenggara, dan di daerah bencana kelaparan Papua. Pengurus BSMI Kota Semarang yang dilantik adalah Ketua, dokter Usman Suteja; Sekretaris, Sri Utami SE; Bidang Kesehatan Ibu dan Anak, dokter Dina Puspitasari; Bidang Pelayanan Kesehatan, dokter Erna Mirani; Bidang Penyuluhan, dokter Aim Fatonah; Bidang Tanggap Bencana, Shodik SKep; dan Bidang Humas, Nana Sudiana. (G17-18h) |