| Senin, 02 Januari 2006 | EKONOMI |
Bulog Sulit Tambah Stok 132 Ribu TonJAKARTA-Perum Bulog akan mengalami kesulitan memenuhi penambahan stok beras secara nasional sebesar 132.000 ton pada 5 Januari 2006 nanti. Karena dari pengalaman 10 tahun terakhir, pengadaan setiap bulan Januari tidak melebihi 3.500 ton. Apalagi pada setiap Januari terjadi kelangkaan gabah maupun beras. Kadivre Perum Bulog Jawa Barat, Thaharjono kepada Suara Merdeka. Dia mengatakan, kalau pun ada, harga gabah atau beras selalu di atas HPP yang telah ditetapkan pemerintah. ''Kendati begitu, Bulog tetap berusaha melakukan pengadaan sebagaimana yang telah ditugaskan pemerintah. Pengadaan itu tetap mengacu pada Inpres No. 13/2005, yaitu HPP Rp 1.730/kg untuk gabah kering panen (GKP) dan Rp 2.280/kg untuk gabah kering giling (GKG). Sekarang saja, sebelum inpres 13/2005 berlaku, harga GKP sudah mencapai Rp 1.800 dan GKG mencapai Rp 2.550.'' katanya. Dia memperkirakan harga akan terus meningkat seiring kecilnya panen pada Januari ini. Sementara dari pantauan Suara Merdeka di sentra produksi Karawang, Indramayu, Cirebon dan Tegal, ternyata stok di masyarakat sangat mengkhawatirkan. ''Hanya petani yang memiliki lahan 2 ha ke atas saja yang memiliki gabah. Itu pun jumlahnya tidak banyak, hanya cukup untuk hidup sampai panen mendatang atau akhir Februari 2006,'' ujarnya. Pemilik penggilingan beras (PB) besar pun stoknya sangat tipis. Bahkan ada penggilingan, seperti PB Sri Unggul di Indramayu kehabisan stok. Sementara PB di Cirebon paling banyak memiliki stok 200-300 ton. ''Kenyataan itu jelas akan mempesulit pengadaan untuk menutupi stok menjadi 1 juta ton setara beras. Seperti diketahui, stok Bulog termasuk stok pemerintah 350 ton pada akhir Desember 2005 tinggal 868.000 ton. Untuk menambah stok menjadi 1 juta ton harus dilakukan pengadaan 132.000 ton. Tentunya ini akan sulit dilakukan, karena di masyarakat stoknya sudah menipis,'' jelasnya. Menipis Pengamatan di daerah lumbung padi seperti Karawang, Indramayu, Cirebon membuktikan stok beras di masyarakat sudah menipis. Petani di Desa Kertasari, Rengasdengklok, Karawang, mengaku tidak punya gabah lagi. Sementara ratusan penggilingan padi di Tegal, Brebes, Pemalang, Batang, dan Pekalongan mengalami kekurangan pasokan. Oleh karena itu, produksi beras mengalami penurunan drastis. Hal ini menyebabkan penggilingan padi mengambil gabah dari luar kota. Ichsan yang memiliki lahan 2 ha dan Thari 4 ha, mengaku memiliki gabah cukup untuk menunggu panen (awal Maret 2006). Sementara Elan yang hanya memiliki lahan 0,5 ha, tak memiliki gabah lagi. Bagi petani yang hanya memiliki lahan di bawah 1 ha di daerah Karawang menjadi penerima manfaat Raskin (beras untuk rakyat miskin). Sementara pemilik PB Sri Unggul, Kartawi, mengaku sulit mendapatkan gabah dari petani. Kalau pun ada yang jual jumlah sangat kecil dan harganya mencapai Rp 2.550/kg GKG. Padahal biasanya setiap hari dia mendapat pasokan 50-100 ton. ''Sejak Desmeber ini, pasokan hampir tidak ada,'' kata dia sambil menunjuk gudang yang kosong. Di Indramayu ada 5 PB besar yang mengalami nasib sama dengan PB Sri Unggul. Keadaan serupa juga dialami PB di Cirebon. Pemilik PB Bangun Jawa, H Sukida mengaku stoknya tinggal 300 ton gabah. Itu pun gabah yang menghasilkan beras super. Sukida merasa kesulitan mendapatkan pasokan gabah dari petani. Karena petani di Cirebon ini sebagian besar sudah tidak punya gabah. Stok hanya dimiliki petani kaya yang memiliki lahan sawah di atas 5 ha. ''Itu pun jumlahnya hanya beberapa orang saja. Harga beras super di penggilingannya sekarang ini antara Rp 3.850-Rp 4.000/kg,'' tuturnya. Sementara Supandi pemilik PB Sri Putra, mengatakan, stok yang dimiliki hanya 300 ton. Padahal Desember 2004 lalu, dia bisa menumpuk stok sampai 600 ton. Lain lagi dengan pemilik PB Sumber Asih, H Sumarno. Pemilik PB yang berlokasi di Desa Bakung, Kecamatan Klangenan, Cirebon, ini mengaku stok yang dimiliki saat ini hanya 200-300 ton GKG kualitas super. Stok saat ini, kata dia jauh lebih kecil di banding stok Desmeber 2004 sebesar 350-400 ton. Melihat kenyataan ini, maka pengadaan beras untuk mengisi kekurangan stok akan sulit dicapai. Hal ini mengingat selain barangnya tidak ada, juga baru memasuki musim tanam dan baru panen akhir Maret 2006. ''Memang ada sawah di daerah Rengasdengklok, Karawang yang sudah panen, yakni di Dewa Dawuan. Tapi luasnya sekitar 2 persen saja. Harganya pun di pasar mahal di atas HPP 2006 sebesar Rp 1.730/kg. Apalagi panen itu akan habis diserap pasar,'' tandas Thaharjono. (tri,sas-33) |