| Senin, 02 Januari 2006 | EKONOMI |
Mentan: Tak Perlu Impor BerasJAKARTA-Deptan melalui kerja sama dengan dinas-dinas di Pemda Provinsi dan Pemda Kota/Kabupaten akan terus meningkatkan upaya diversifikasi pangan. ''Kita perlu memasyarakatkan agar beras tidak menjadi satu-satunya sumber pangan. Jagung, sagu, dan umbi-umbian sebenarnya bisa setara dengan beras sebagai sumber karbohidrat,'' kata Menteri Pertanian Anton Apriantono Sabtu (31/12). Mentan mengakui sejauh ini produk beras dalam negeri memang cukup untuk memasok kebutuhan konsumsi nasional. ''Meski secara nasional produksi beras tahun ini defisit sekitar 25 ribu ton dibanding kebutuhan konsumsi nasional, stok beras domestik masih ada sedikitnya 2,4 juta ton. 1,08 juta ton ada di gudang Bulog. Sedangkan 1,4 juta lainnya ada di masyarakat. Karenanya kita tak perlu impor beras,'' tegasnya. Presiden selaku Ketua Badan Ketahanan Pangan, tambah Mentan, sudah sepakat memprioritaskan produk dalam negeri. Bulog diperintahkan mengamankan stok nasional dengan cara membeli beras atau padi yang ada di masyarakat. Swasembada Mentan menegaskan, sejak 2004 sampai sekarang, sebenarnya Indonesia telah kembali berswasembada beras. ''Buktinya tanpa impor pun, beras domestik cukup memenuhi kebutuhan,'' ujarnya. Impor 70.000 ton yang terjadi akhir Nopember, karena alasan menekan inflasi, untuk meredam harga di pasar agar tidak terlalu tinggi. Bukan karena keterbatasan stok dalam negeri. Anton yakin, swasembada pangan akan berkelanjutan bila program intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian berjalan sesuai harapan. Lebih bagus lagi, bila diversifikasi pangan atau pola konsumsi bisa digalakkan menjadi gerakan nasional. Mentan menegaskan tentang penting dan vitalnya peran para penyuluh pertanian. ''Para penyuluh di lapang merupakan ujung tombak berhasilnya program peningkatan produksi pertanian maupun diversifikasi pangan. ''Mentan mengajak para kepala daerah di provinsi maupun kabupaten dan kota seluruh Indonesia untuk bersama-sama merevitalisasi peran dan fungsi penyuluhan. Mentan juga meminta agar petani lebih rasional menggunakan pupuk. Lebih dari itu, dia mengajak agar petani mulai mengembangkan pertanian terpadu yang memadukan peternakan dengan pertanian organik Pertanian organik bisa menjadi solusi alternatif untuk menjawab beberapa persoalan yang ada di masa kini dan mendatang. Seperti kelangkaan pupuk an-organik dan kejenuhan tanah pertanian. (bn-33) |