logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 31 Desember 2005 WACANA
Line

Religius, KNPI Pasca-Kongres

Oleh M. Rikza Chamami

KONGRES Pemuda / KNPI XI (18 - 21 Des 2005) menata masa depan. Dalam amanatnya, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan, agar KNPI mempunyai program kerja yang tidak muluk-muluk.

Selain merumuskan kebijakan organisasi, kongres juga menjadi ajang silaturahmi. Maka kongres pemuda mempunyai makna strategis bagi pemuda untuk menghasilkan keputusan yang menitikberatkan pada idealisme.

Idealisme pemuda yang dimaksudkan adalah menyusun rencana strategis dalam membangun KNPI ke depan.

Dari diskusi di Wisma Caringin Bogor salah satu keputusan yang sangat berarti adalah penegasan paradigma baru KNPI. Visi KNPI adalah membangun masyarakat, memperkuat nasionalisme dan mempertajam intelektual.

Selain itu, kongres memutuskan Hasanuddin Yusuf sebagai Ketua Umum DPP KNPI menggantikan Idrus Marham. Salah satu visi yang ingin dicapai Ketua FKPPI ini adalah membangun KNPI dengan pola nasionalisme religius. Ia juga berharap agar KNPI tidak menjadi kepanjangan tangan partai tertentu.

Ini artinya ada angin segar yang akan diraih dari KNPI. Persoalan kemudian, apakah semua fungsionaris KNPI siap untuk melakukan perubahan paradigma? Inilah tantangan yang akan dihadapi oleh seluruh fungsionaris KNPI.

Jika tatanan itu tidak dapat terselesaikan, posisi organisasi KNPI mengalami kemunduran. Maka semangat untuk membangun, memperbaiki dan menata kembali KNPI pasca-Kongres adalah mengubah paradigma berfikir pragmatis menjadi dialektis berbasis program.

Semangat untuk berdialektika itu senapas dengan pemuda pada 23 Juni 1973 yang dengan progresif menghasilkan Deklarasi Pemuda Indonesia. Deklarasi itu sangat bermakna sebagai simbol kesatupaduan pemuda untuk membangun nasionalisme yang sekian lama pudar.

Dalam dokumen tersebut diikrarkan, ''Di hadapan kami terbentang masa depan dan hasil pembangunan bangsa kami. Generasi muda dan hasil pembangunan adalah masa depan itu sendiri. Oleh karena itu, generasi muda, pembangunan dan masa depan adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan''.

Ini artinya, pemuda saat itu sudah mampu mengukir sejarah yang sangat bermakna bagi bangsa dalam menjunjung tinggi harmonisasi kehidupan bernegara.

Sejarah dari masa ke masa (1908, 1928, 1945 dan 1966) juga telah mencatat betapa besar peran pemuda dalam menumpas penjajah dari bumi Nusantara ini. Bekal yang dibawa untuk melawan penjajah adalah persatuan bangsa dan ilmu pengetahuan. Maka dua hal tersebut bagi pemuda menjadi modal penting untuk menata Indonesia di masa mendatang.

Melihat pentingnya hal tersebut, Permufakatan Pemuda Indonesia 14 Agustus 1987 juga mencatat, ''Bahwa pemuda Indonesia sebagai pembuat dan pengukir sejarah dalam pengemban tugas suci hakikat keberadaannya dalam perjalanan masyarakat dan bangsanya''.

Nilai tersebut akan menandakan pemuda Indonesia sekarang tidak lupa dengan sejarahnya. Di sinilah arti penting ''melek sejarah'' dalam kerangka menumbuhkembangkan kembali iktikad baik membangun KNPI dan Indonesia secara sinergis.

Kongres kemarin menjadi pintu lanjutan dalam meneguhkan kembali semangat idealisme pemuda. KNPI sebagai organ kesatuan 60 OKP di Indonesia sudah sepatutnya menjadi organisasi berbasis kinerja yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat. Kesan organisasi yang elitis sudah tidak lagi akan muncul, ketika seluruh fungsionaris KNPI mampu menerapkan prinsip kinerja tersebut.

Masa Depan

Masa depan KNPI pasca-Kongres akan dilihat dari program yang digariskan dan dilaksanakan secara nyata. Oleh sebab itulah pasca-Kongres ini perlu diagendakan tiga bangunan ide / pradigma KNPI.

Pertama, pola pemberdayaan masyarakat. Dalam berbagai kesempatan KNPI harus tampil untuk membantu menghilangkan kegelisahan kawula alit dalam menanggung beban hidupnya. Misalnya turut berpartisipasi penanggulangan dampak gizi buruk, wabah cikungunya, flu burung dan lain sebagainya.

Kedua, membangun kemitraan dengan OKP. Selama ini KNPI dan OKP hanya bisa bersatu ketika Kongres. Setelah Kongres berakhir, mereka ''berpisah'' untuk menghidupi organisasi masing-masing. Sepatutnya fenomena ini sudah tidak lagi ada setelah Kongres ini dilaksanakan. Karena OKP dan KNPI adalah satu ruh yang berjalan secara terpadu - tanpa mengenal dikotomi.

Ketiga, peningkatan kualitas moral dan intelektual. Sumber daya manusia yang didadar dalam KNPI hendaknya memulai citra baik bangsa yang dinilai mengalami degradasi moral. Pemuda tampil dengan tegak mengkampanyekan moralitas dalam menjalankan amanah kebangsaan ini. Peningkatan kualitas moral tersebut juga diimbangi dengan penguasaan intelektual dengan cakrawala keilmuan dan wawasan sosial yang memadai.

Dengan demikian KNPI akan mampu memperteguh kembali idealisme pemuda dengan bersikap arif dan bijak menyikapi kenyataan sosial.

KNPI juga hadir di tengah kehidupan masyarakat yang membutuhkan keadilan, kesetaraan dan perlindungan hukum.

Maka hasil Kongres juga mencakup tiga komponen penting lainnya; perpektif ide, perpektif struktur dan perspektif program.

Ketiga hal ini juga menjadi kunci untuk memajukan KNPI di masa mendatang. Karena posisi program kerja ke depan tidak akan berhasil tanpa dukungan ide dan struktur. (11)

M. Rikza Chamami, S.Pd.I staf Pengajar Fak.Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, Pengurus DPD KNPI Jawa Tengah


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA