| Sabtu, 31 Desember 2005 | WACANA |
tajuk rencanaMelepas 2005 Menyambut 2006- Refleksi menjelang pergantian tahun adalah hal yang sangat manusiawi. Begitulah perjalanan hidup yang terus berproses, baik sebagai individu, kelompok maupun sebagai bangsa. Ada masa pasang, ada masa surut. Ada peluang tetapi tidak sedikit ancaman. Ada kelebihan namun tentu ada kekurangan. Inilah saat untuk mengevaluasi diri seraya melihat ke depan dengan optimistik. Sikap seperti itu penting karena begitu banyak cobaan datang dan harus dihadapi bangsa ini pada tahun 2005. Kondisi global pun tak sepenuhnya menunjang dan berdampak besar bagi ekonomi. Sementara itu, prediksi tentang apa yang bakal terjadi pada tahun 2006 tak sepenuhnya menggambarkan keceriaan. Tak sepenuhnya terlihat cerah karena masih akan banyak persoalan yang harus diselesaikan. - Indonesia mengawali tahun 2005 dengan perasaan duka mendalam karena di pengujung tahun 2004 terjadi bencana dahsyat, yakni gempa dan tsunami yang memporakporandakan Aceh dan sebagian Sumatera Utara. Ratusan ribu orang tewas dan hilang. Kerugian material lain berupa kehancuran bangunan pun tak terhitung. Cobaan juga datang dari serangkaian teror di tanah air yang menimbulkan keresahan dan ketidakpastian usaha. Citra sebagai negara terkorup pun tak pernah hilang, kendati di sisi lain upaya pemberantasan KKN sudah semakin gencar. Persoalan terberat adalah tantangan di bidang ekonomi dengan kenaikan harga BBM dan lain-lain. Jumlah orang miskin bertambah, pengangguran pun meningkat. - Namun tidak semua berwajah hitam. Bencana di Aceh membawa hikmah besar dan akhirnya perdamaian bisa dicapai di Tanah Rencong. Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla yang merosot terus popularitasnya, berusaha memperbaiki kinerja dengan mengadakan perombakan menteri ekonomi. Jadi tetap ada dasar untuk optimistik, kendati di tahun ini kita harus berkorban banyak terutama dari sisi ekonomi. Inflasi menjulang tinggi mendekati 20 persen, kurs rupiah bertahan pada posisi lemah dan suku bunga bank naik sehingga memberatkan dunia usaha. Itulah harga yang harus dibayar untuk sebuah perubahan ke arah perbaikan. Mengurangi dan menghilangkan subsidi BBM bagaimanapun mempunyai nilai positif ke depan. - Sikap tidak mudah menyerah patut dijaga karena bukan tanpa alasan. Janganlah kita mendramatisasi keadaaan dengan lebih melihat segala sesuatu dari kacamata negatif. Kalau hanya dilihat dari kekurangan, selamanya pasti akan terlihat. Toh kita masih bisa bernapas lega ketika secara makro pertumbuhan yang menggambarkan gerak perekonomian secara agregat dan menyeluruh, diprediksikan masih di atas 5 persen dan mendekati 6 persen. Itu bukan capaian yang kecil. Jika dibanding rata-rata dunia, pertumbuhan itu masih relatif baik. Hanya, kebutuhan riil mestinya lebih besar dari angka tersebut. Itulah sebabnya kita harus berupaya maksimal agar kinerja tahun 2006 bisa lebih dari yang diperkirakan. - Jika kita sepakat reformasi sebagai milestone untuk perubahan di segala bidang, semangat dan substansinya haruslah dijaga. Demokratisasi dikembangkan, penegakan hukum ditingkatkan, dan yang lebih utama adalah perang terhadap korupsi. Sekarang ini langkah telah dimulai, kendati masih tersendat-sendat. Pemberantasan korupsi tak boleh pandang bulu karena masih ada kesan diskriminatif. Semakin besar nilai korupsinya, semakin besar pula peluang untuk lolos. Di sisi lain, efektivitas pemerintahan SBY-Kalla perlu lebih ditingkatkan dari segi kebijakan. Jangan terpancing rivalitas politik yang justru menjadi kurang simpatik di mata rakyat. Kepercayaan mesti ditumbuhkan dan manakala investasi datang, berarti kepercayaan itu telah mampu dikembalikan. - Ada kecenderungan popularitas dan kepercayaan terhadap pemerintah menurun. Itulah yang harus dijawab melalui peningkatan kinerja. Semua, termasuk komponen partai politik perlu mendukung secara penuh. Kontrol dilakukan namun tetap dalam kerangka konstruktif. Suka atau tidak suka, inilah pemerintahan yang sudah terbentuk dan terpilih secara demokratis. Mereka akan bertugas sampai 2009. Sebaliknya, SBY-Kalla dituntut untuk lebih fokus dan tak usah terlalu risau dengan urusan popularitas ataupun politik. Dengan berbagai asumsi di atas, masih besar harapan perbaikan di tahun 2006. Benar kiranya ungkapan yang menyatakan ''Kita adalah apa yang kita pikirkan''. Jadi ketika kita yakin akan lebih baik, hasilnya pun akan demikian. |