logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 31 Desember 2005 NASIONAL
Line

Berkat "Badek" ke Tanah Suci

TEMAN-TEMANYA menjuluki Siswadi Sarkum dengan sebutan "Kaji Badek". Badek adalah bahan dasar gula kelapa berupa cairan, atau dikenal sebagai air nira. Ia mendapat julukan itu karena Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) dikumpulkan dari usaha itu. "Alhamdulillah, kami bersyukur bisa menunaikan ibadah haji karena badek," tuturnya kepada Kakanwil Depag Jateng Drs H Masyhudi MM yang menyambanginya, sesaat sebelum terbang ke Tanah Suci, kemarin. Selama menunggu penerbangan, Siswadi yang tergabung dalam Kloter 68/SOC dari Kabupaten Banyumas mendapat pondokan di lantai 3 Gedung Makkah, Asrama Haji Donohudan. "Sampun mantep manasikipun (sudah mantap manasiknya)?," tanya Masyhudi saat menyapa Siswadi dan kawan-kawannya. "Insya Allah sampun," jawab mereka serempak.

Kepada Masyhudi, Siswadi menuturkan, bisnisnya itu ditekuninya sejak puluhan tahun lalu. Di desanya, Kalisalak, Kebasen, Banyumas, Siswadi bersama istri Ny Tugiarti dan empat anaknya memulai usahanya sebagai tukang deres. Setiap hari ia harus bermandi keringat karena naik turun pohon kelapa. Lama kelamaan, usahanya terus berkembang. Ia tidak perlu lagi repot-repot memanjat pohon kelapa sendiri.

Karyawannya terus bertambah dari tiga orang menjadi 20 orang. Siswadi tidak lagi sebagai penderes tapi meningkat menjadi pengepul dengan anggota sekitar 65 orang. Dia tidak menjual badek lagi tetapi langsung diolah menjadi gula kelapa, atau gula jawa. Konsumennya tidak tanggung-tanggung. Tidak hanya di wilayah Jateng, tetapi diekspor ke Singapura dan Belanda. dalam seminggu dia harus menyediakan sedikitnya 5 ton gula kelapa. Karena usahanya itu, pada 9 Desember lalu dia diundang ke Istana Negara. Siswadi mendapat penghargaan dari Presiden SBY dalam bidang ketahanan pangan. "Alhamdulillah setelah dipanggil Presiden, kami dipanggil Allah ke Tanah Suci. Ini sekaligus sebagai bukti syukur kami kepada Tuhan," katanya sambil tersenyum.

Selain Kloter 68/SOC, calon jamaah haji dari Kabupaten Banyumas juga terbagi dalam Kloter 69/SOC. Dalam kloter tersebut terdapat Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto Drs KH Khariri Sofa dan Wakil Bupati Banyumas Drs H Imam Durori M.Ag dan sejumlah kiai.

Keluhkan Katering

Sementara itu beberapa calon jamaah haji mengeluhkan menu makanan selama di Asrama Haji Donohudan. Selain persediaanya yang tidak mencukupi jumlah calon haji, menunya juga dinilai tidak memenuhi gizi yang sehat. "Seharusnya calon haji itu perlu mendapat makanan dengan gizi yang cukup, sehingga selama perjalanan 10 jam mereka tetap terjaga kesehatannya," tutur seorang calon haji. "Air putih saja kurang, apalagi makanan," keluh mereka. Menurut pemantauan Suara Merdeka, para calon haji sejak Kloter I hingga 69 tidak pernah menyampaikan keluhan tentang apa saja kalau tidak ditanya. Hal itu karena sejak dari rumah para pembimbing haji sudah mengajari agar mereka sabar, tabah dan tidak mengeluh. (Agus Fathuddin Yusuf-29)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA