logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 31 Desember 2005 NASIONAL
Line

16 Kabupaten Rawan Banjir

SEMARANG - Sebanyak 16 kabupaten di Jateng tergolong rawan banjir. Karena itu, Pemprov mengimbau agar seluruh jajaran pemkab/pemkot waspada terutama saat musim hujan. Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) Jateng Ristanto Jumat kemarin menjelaskan, daerah yang rawan banjir adalah Rembang, Blora, Kudus, Jepara, Demak, Grobogan, Kendal, Kebumen, Purworejo, Batang, Pekalongan, Tegal, Banyumas, Brebes, Cilacap, dan Purbalingga. Banjir di daerah tersebut disebabkan luapan sungai, tanggul jebol, dan gelombang pasang.

Sementara 11 kabupaten yang rawan tanah longsor, meliputi Wonosobo, Temanggung, Purworejo, Kebumen, Magelang, Kendal, Boyolali, Banyumas, Purbalingga, Pemalang, dan Batang.

''Untuk daerah yang rawan bencana, kami secara berkala melakukan sosialisasi pada masyarakat mengenai langkah-langkah standar menghadapinya. Di samping itu, pemerintah terus menyiapkan bantuan yang setiap saat bisa disalurkan,'' ungkapnya.

Dia merasa bersyukur karena jumlah bencana alam di Jateng pada 2005 menurun bila dibanding dengan tahun sebelumnya. Tahun 2005 terjadi 17 kali banjir yang menimpa 12 kabupaten/kota, 37 tanah longsor di 13 kabupaten/kota, 83 kali kebakaran di 20 kabupaten/kota, dan 22 kali angin topan di 14 kabupaten/kota.

Bencana alam pada tahun ini mengakibatkan 9 orang meninggal, 10 luka parah, dan 7 luka ringan. Kejadian itu juga mengakibatkan 192 rumah roboh, 494 rusak parah, dan 1.978 rusak ringan. ''Kerugian ditaksir mencapai Rp 32,5 miliar.''

Mengenai bencana alam pada 2004 di Jateng, 62 kali banjir menimpa 19 kabupaten/kota. Kabupaten Kebumen paling sering kebanjiran, bahkan sampai 14 kali. Tanah longsor 58 kali menimpa 15 kabupaten/kota, paling banyak Wonosobo hingga 14 kali. Kebakaran 98 kali menimpa 19 kabupaten/kota, paling banyak juga Wonosobo 16 kali.

Bencana alam tahun 2004 mengakibatkan 88 orang meninggal dunia, 33 luka parah, dan 25 luka ringan. Sebanyak 215 rumah roboh, 337 rumah rusak parah, dan 2.161 lainnya rusak ringan.

Upaya Pemerintah

Upaya pemerintah menekan sekecil mungkin angka korban bencana, menurut Ristanto, melalui normalisasi aliran sungai sekaligus memperkuat tanggul/talut penahan arus sungai. "Berkaitan dengan hal ini, telah dibentuk tim khusus pengkajian normalisasi sungai yang terdiri atas unsur gabungan perguruan tinggi, LSM, lingkungan, pemda, dan DPRD,'' paparnya.

Upaya lain, pengendalian tata ruang kabupaten/kota dalam rangka mempertahankan fungsi-fungsi daerah resapan air. Karena itu, perlu dilakukan penyusunan peraturan tata ruang dan pengembalian fungsi kawasan hutan lindung secara maksimal. Kemudian, meninjau kembali berbagai bentuk perizinan bagi pengembang secara serentak di tiap kabupaten/kota serta mengevaluasi dan memperketat studi amdal pada kawasan vital yang berpotensi menyebabkan banjir.

Untuk menghadapi keadaan darurat, Kesbanglinmas Jateng menyarankan pembuatan lumbung dan rumah panggung pada setiap desa.

Khusus di Kantor Kesbanglinmas Jateng, telah tersedia sarana dan prasarana penanggulangan bencana alam, terdiri atas 12 perahu karet, 17 mesin tempel, 65 pelampung, 30 dayung, 10 pompa perahu, alat selam, 3 truk, 5 tenda peleton, velbed, dan tenda regu. Fasilitas yang sama juga tersedia di kantor-kantor Satkorlak PBA dan kesbanglinmas kabupaten/ kota.(B13-14m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA