| Sabtu, 31 Desember 2005 | NASIONAL |
Lia Aminuddin dan Komunitas Eden (2-Habis)Banyak Penggemar Internet Tergoda
LAMA-KELAMAAN Lia dan para pengikutnya semakin tertutup. Komunikasi dengan warga setempat nyaris tidak ada lagi. Hanya para pengikutnya yang masih rutin membagi-bagikan selebaran yang juga mencantumkan alamat komunitas tersebut di dunia maya. Semakin tertutupnya wanita kelahiran Surabaya, 21 Agustus 1947 itu, sepengetahuan warga akibat perintah dari ''wahyu'' yang dia terima. Oleh pengikutnya, Lia kemudian dipuja dan tak boleh lagi bertemu dengan orang luar. Warga mengorek informasi seperti itu dari orang-orang yang pernah bekerja di rumah yang disebut sebagai Kerajaan Tuhan tersebut. ''Kan pernah ada tukang yang bekerja di situ. Kadang kami yang nanya dia, kadang tukang itu yang ngomong karena melihat hal yang ganjil. Kami ya hanya tahu dari mereka itu. Pastinya sih nggak tahu deh,'' ujar Wawan, warga setempat. Menurut penuturan Wawan, banyak juga anak muda penggemar internet yang tergoda mengklik situs milik Lia yang beralamat http://liaeden.info/ indonesia. ''Setelah kami lihat isinya, banyak sekali keanehan. Kok bisanya dia mengangkat dirinya sendiri sebagai Jibril, Roh Kudus. Juga, surat-suratnya yang untuk Presiden SBY, Akbar Tandjung, Cak Nur, MUI. Juga, komentarnya tentang tsunami di Aceh. Kami jadi bingung. Namun, saat membahas tentang syirik melawan dukun, ya ada benernya sih. Jadi, campur aduk begitu,'' papar pria berkacamata tersebut. Dia menduga, di belakang Lia juga banyak orang pintarnya. Karena dari website serta pernyataan-pernyataan Lia, terlihat ada semacam tim khusus sebagai pemerhati dan penganalisis masalah-masalah yang berkembang di masyarakat. ''Ini juga yang menjadikan kami bertanya-tanya, dari mana dananya. Jangan-jangan banyak orang kaya di belakangnya. Sebab, wartelnya juga sudah tutup dan nggak lagi merangkai bunga. Dari mana ya duitnya?'' Zaenab mengungkapkan, dirinya pernah mendengar adanya denda bagi pengikut Lia Rp 750.000 per orang jika tidak hadir dalam ibadah di Kerajaan Tuhan. ''Kalau nggak datang Rabu, ya harus datang Sabtu. Tapi kalau nggak hadir, bayar denda Rp 750.000. Gitu yang saya dengar. Namun, mungkin juga mereka itu orang-orang kaya, terus pada patungan,'' ujarnya. Sekolah Khusus Saat mengenalkan ajarannya yang bernama Salamullah, barulah rumah Lia di Jalan Mahoni dijadikan sebagai ''surga'' bagi para pengikutnya. Dari sinilah rumah itu dijadikan semacam tempat ibadah. ''Namun, juga kelihatan jika ada sekolah di situ. Kami sih melihat dari banyaknya anak-anak kecil ke situ bawa buku. Mereka dibawa bapak ibunya ke situ. Bajunya juga serbaputih. Ada nyanyi-nyanyi. Tapi orang sini nggak ada yang tertarik,'' ungkap Wawan. Setelah makin banyaknya anak-anak ke komunitas tersebut, orang luar makin jarang yang terlihat di dalam rumah tersebut. Dan, kejadian itu mulai tiga sampai empat tahun lalu. ''Akhirnya, ya kami nggak tahu apa-apa lagi. Ya, paling dari selebaran yang mereka bagikan,'' kata Zaenab. Meski demikian, para tetangga tetap berprasangka baik kalau saja sepak terjang Lia dan pengikutnya tidak meresahkan dan hanya mengadakan aktivitas nyeleneh untuk kalangan terbatas. Pada Kamis lalu, banyak orang daerah lain yang ingin menonton Kerajaan Tuhan. Di antaranya adalah Yanto, warga Pulogebang, Jakarta Timur. Menurut pengakuan Yanto, dirinya pernah bertemu dengan Lia dan pengikutnya saat menggelar aksi damai di depan Istana Merdeka. ''Seingat saya, waktu itu presidennya masih Gus Dur. Waktu itu, ada juga demo mahasiswa untuk menurunkan Gus Dur. Waktu itu orang yang pakai baju putih-putih (kelompok Lia) membagikan minyak wangi di botol kecil dan selebaran. Katanya, minyak wangi yang bisa buat obat tetes mata,'' tutur pria asal Yogyakarta tersebut. Karena berprasangka baik, Yanto mengantongi minyak wangi gratis itu. Tiba-tiba ada orang yang potongannya seperti intel memperingatkannya. ''Jangan dipakai, wong isinya bensin kok. Orang itu ngomong gitu. Saya buka ternyata bensin beneran. Kalau ditetesin ke mata kan bahaya. Makanya, saya ke sini karena masih penasaran sama mereka,'' ujarnya. Hubungan yang tenang dan damai tapi waswas tersebut akhirnya berubah menjadi situasi yang panas setelah 25 Desember lalu. Yaitu saat Lia yang mengaku sebagai hakim yang ditunjuk Allah mengeluarkan ancaman kepada para ulama di sekitarnya yang akan menggelar tablig akbar pada 31 Desember. Tablig akbar tersebut memang mengangkat tema yang mempersoalkan keabsahan Lia sebagai Jibril. Tema tersebut dipilih karena memang sebagian warga mulai berpikir kritis terhadap keberadaan Lia dan para pengikutnya. Menurut penuturan Sangir, dalam surat tersebut Lia mengancam para ulama yang namanya tertulis dalam undangan tablig akbar di Masjid Meranti -yang hanya berjarak ratusan meter- dekat Kerajaan Tuhan. ''Seingat saya, dia (Lia) menyatakan dirinya sebagai Jibril. Lalu bilang bahwa para ulama-ulama seperti ustad Ilham dan Hamdani akan mendapat dosa besar karena menyebarkan selebaran yang menghasut permusuhan. Lia merasa, para ulama memfitnah Komunitas Eden. Lalu dia mengancam mereka. Katanya, mereka akan dapat musibah atau azab. Membaca (tulisan Lia-Red) itu, warga sini jadi marah,'' urainya. Sangir menyebutkan, walaupun orang Islam di sekitar rumah Lia bukan kategori yang taat sekali beragama, begitu melihat pernyataan Lia yang sembrono dan akan mengancam ulama, warga pun tergerak untuk bersikap. Akhirnya, warga yang terdiri atas kaum ibu, pemuda, tokoh masyarakat dan sebagainya menggelar demo di rumah Lia. Makin hari makin banyak warga yang berdemo. Warga kampung sekitar pun ikut berdemo atau hanya menonton. ''Situasi sudah ramai sekali dan kami lihat mereka nggak segera merespons atau terbuka, kami laporkan ke aparat. Akhirnya, mereka ya dibawa ke Polda. Mungkin ini yang terbaik buat mereka agar cepat sadar. Juga biar aman, karena ya kami khawatir warga jadi habis kesabarannya.'' (Hartono Harimurti-14j) | ||||