| Sabtu, 31 Desember 2005 | INTERNASIONAL |
Ribuan Pengungsi Sudan di Mesir Mengamuk
KAIRO - Ribuan pengungsi Sudan di Mesir mengamuk saat polisi membubarkan kemah unjuk rasa yang sudah berlangsung tiga bulan di depan kantor PBB di Kairo, Jumat kemarin. Huru-hara itu berujung dengan tewasnya 10 pengungsi akibat desak-desakan dan bentrok dengan polisi. Para pengungsi Sudan itu menggelar unjuk rasa menuntut pemindahan mereka ke negeri lain. Polisi yang bersenjatakan pentungan dan tameng sekitar pukul 05.00 waktu setempat (10.00 WIB) menyerbu lapangan kecil tempat pengungsi Sudan sedang menggelar protes. "Terjadi desak-desakan yang membuat 30 pemrotes cedera, kebanyakan di antara mereka adalah orang tua dan pemuda. Mereka segera dibawa ke rumah sakit. Namun, sepuluh orang meninggal,'' demikian penjelasan Kementerian Dalam Negeri Mesir. Beberapa orang diseret menjauhi lokasi demonstrasi, sementara para pengungsi - termasuk puluhan perempuan dan anak-anak - berusaha melawan aksi pembubaran. Pasukan polisi yang berjumlah hampir 5.000 personel untuk operasi tersebut semula menggunakan semprotan air untuk membubarkan pengungsi. Unjuk Rasa itu telah berlangsung selama tiga bulan. Mereka tidur di lapangan terbuka selama aksi protes itu. Padahal, udara di Kairo sangat menyesakkan karena tingkat pencemaran yang tinggi. Mereka juga harus berjuang melawan hawa dingin yang telah mencapai minus 10 derajat Celcius dengan hanya menggunakan lembaran plastik, kardus dan selimut untuk sekadar menghangatkan badan. Perang saudara utara-selatan selama 20 tahun di Sudan, yang berakhir setahun lalu, telah membuat sebanyak empat juta orang meninggalkan tempat tinggal mereka. Konflik yang sedang berlangsung di wilayah barat negeri tersebut, Darfur, juga telah memaksa banyak orang meninggalkan Sudan. Mengepung Lokasi Para pengungsi itu menuntut lembaga PBB urusan pengungsi mengkaji kasus pencari suaka yang lamaran mereka telah ditolak dan melanjutkan pemukiman kembali pengungsi di negara ketiga, terutama di Amerika Serikat, Kanada dan Australia. Ceceran darah terlihat di pelataran lapangan tempat para pengungsi berusaha melawan polisi yang bersenjatakan pentungan. Para pengungsi membalas serbuan polisi dengan lemparan botol-botol kosong. Sekitar 4.000 polisi mengepung lokasi kemah protes itu. ''Pasukan polisi dikerahkan untuk mengamankan pemindahan orang-orang Sudan itu dan mencegah terjadinya kekerasan,'' demikian pernyataan Kementerian Dalam Negeri. Para saksi mata menuturkan, ada sedikitnya enam orang Sudan, beberapa di antaranya anak-anak, tergeletak begitu saja di lapangan. Seorang dokter memeriksa seorang anak perempuan berusia empat tahun yang ditemukan tidak sadar. Ternyata, kata si dokter, anak itu sudah meninggal. ''Sebagian besar pengungsi Sudan hanya menjadi sasaran kekerasan di Mesir. Kami tidak ingin berada di sini lebih lama,'' kata salah seorang pengunjuk rasa. Sebagian besar pengungsi Sudan itu menjelaskan, mereka hanya ingin meninggalkan Mesir. Sebab, lembaga urusan pengungsi PBB telah mengabaikan nasib buruk yang mereka alami. Belum ada penjelasan kemana pasukan keamanan membawa para pengungsi itu. Komisariat Tinggi PBB Urusan Pengunsi (UNCHR) telah menawarkan untuk memberi bantuan bagi pengungsi tersebut. Tetapi, UNCHR tidak bersedia memukimkan kembali mereka di negara ketiga.(rtr-gn-25) |