| Sabtu, 31 Desember 2005 | EKONOMI |
Ketimpangan Pendapatan Jateng RendahSEMARANG- Penduduk Jateng menikmati distribusi pendapatan yang merata pada kisaran angka 25% dengan menggunakan gini ratio selama lima tahun terakhir. Angka tersebut menyatakan ketimpangan pendapatan di Jateng terbilang rendah. Kabupaten yang memiliki ketimpangan tertinggi adalah Surakarta, Salatiga, Karanganyar, dan Semarang. Sedangkan daerah yang menikmati ketimpangan terendah adalah Kudus, Rembang, Pati, Banjarnegara, dan Jepara. Menurut Teguh Pramono, Kabid Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng data ketenagakerjaan yang tersedia di BPS ternyata kurang mampu untuk memperlihatkan hubungan langsung antara lapangan kerja dengan ketimpangan yang terjadi. "Dari data lima tahun terakhir bisa dikatakan semakin tinggi konsentrasi pekerja di sektor pertanian dan semakin padat karya teknologi yang digunakan maka akan semakin baik pemerataan pendapatannya," katanya dalam Sosialisasi Kegiatan BPS di Hotel Pandanaran Kamis (29/12). Hal ini, kata dia, disebabkan tingkat upah yang relatif tidak berbeda antar jenis pekerjaan. Lebih lanjut ia memaparkan adanya perbedaan sistem pengupahan di daerah pedesaan dan perkotaan. Di daerah perkotaan yang banyak dicirikan oleh penggunaan teknologi padat modal, ternyata ketimpangan terjadi akibat besarnya prosentase pekerja di sektor perdagangan dan jasa. Selama ini perekonomian Jateng dikuasai empat sektor utama yaitu industri (denagn pangsa 30%), pertanian (20%), perdagangan (20%), dan jasa (10%). Keempat sektor tersebut menguasai sekitar 80% struktur ekonomi. Sektor Perdagangan "Sektor perdagangan dua tahun terakhir mengungguli sektor pertanian. Hal ini dikarenakan sektor perdagangan memiliki spektrum usaha yang lebih luas dan mampu memberikan keuntungan yang lebih besar dari sektor pertanian," katanya. Ia juga mengungkapkan struktur ekonomi ini agak sulit untuk menerangkan penyebab meratanya distribusi pendapatan yang terjadi. Pada tingkatan yang lebih spesifik, di kabupaten/ kota yang memiliki nilai tertinggi dan terendah hitungan gini, struktur ekonomi juga masih sulit untuk menerangkan penyebab perbedaan distribusi pendapatan yang terjadi antarkabupaten/ kota. Dominasi sesuatu sektor, kata dia, tidak selalu bisa menerangkan penyebab tinggi rendahnya disparitas. Ia menggambarkan tahun 2004 struktur ekonomi Kudus yang dikuasai sektor industri hingga 57% lebih memiliki disparitas yang minimal. Sementara pada 2001 Karanganyar dikuasai sektor industri hingga 41% mengalami disparitas tertinggi. Di sisi lain, sektor pertanian di Banjarnegara, Rembang, dan Pati telah membuat ketiga kabupaten tersebut menikmati disparitas terendah selama tahun 2001-2003. (mhr-59) |