| Sabtu, 31 Desember 2005 | EKONOMI |
Kerugian Perhutani 2005 Mencapai Rp 130 MiliarSEMARANG- Sepanjang tahun 2005, Perum Perhutani Jateng mengalami kerugian sebanyak 65.000 m3 kayu atau senilai Rp 130 miliar akibat pencurian. Bila dibandingkan dengan tahun 2004, angka kerugian tersebut mengalami penurunan cukup signifikan, yakni mencapai 50% lebih atau 130.000 m3. Meski demikian kerugian tersebut belum sebanding dengan keuntungan yang mampu diperoleh tahun ini, sekitar Rp 150 miliar. Oleh karenanya Perhutani berupaya meningkatkan kerjasama dengan Polwil untuk mengantisipasi kian meluasnya pencurian kayu. Menurut A Fachrodji, Kepala Unit Perum Perhutani Unit I Jateng selain kerugian berupa materi, ekosistem hutan juga mengalami kerusakan serius. Ia mengakui perbandingan petugas dengan luas areal perhutanan belum proporsional. Namun pihaknya belum merencanakan akan menambah petugas hutan. "Hal ini dikarenakan beban pengeluaran Perhutani akan bertambah dan kami belum mampu memenuhinya," katanya seusai acara Pelantikan Pejabat-pejabat Perum Perhutani Unit I Jateng di Rimba Graha Jumat (30/12). Ia menambahkan pihaknya kini lebih mengefektifkan program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) untuk menghentikan penjarahan. Selain itu Perhutani menargetkan volume produksi tahun 2006 sebesar 970.000 m3 kayu jati dan kayu rimba. Namun Jatah Produksi Tahunan (JPT) yang diterima Perhutani Jateng hanya 740.000 m3. Dari jumlah tersebut Perhutani hanya mampu menyediakan kayu jati sebanyak 250.000 m3. Oleh karenanya diperlukan produksi kayu rakyat serta pendistribusian dari daerah lain. Sedangkan kebutuhan kayu di Jateng sebesar 3 juta m3. "Kebutuhan produk kayu terutama untuk industri di Jepara tidak cukup bila hanya bertumpu pada produksi Jateng. Maka masih perlu didatangkan dari daerah lain," katanya. Produksi Gondorukem Tahun 2006, Perhutani Jateng juga akan lebih berupaya untuk mengembangkan produktivitas gondorukem. Fachroji mengatakan beberapa waktu lalu, pihaknya telah menaikkan harga dari 475 dolar AS per ton menjadi 750 dolar AS. Dari kenaikan harga itu, Perhutani Jateng mendapatkan keuntungan hingga Rp 75 miliar. "Kami merencanakan sebagian keuntungan tersebut akan dialokasikan untuk program kenaikan gaji karyawan sebesar 20-30%. Karena selama 4 tahun terakhir, Perhutani belum pernah menaikkan gaji karyawan," katanya. Terkait dengan tingginya harga kayu yang baru-baru ini dipersoalkan pengrajin mebel di Jepara, ia mengatakan hal itu disebabkan masih adanya invisible cost atau biaya-biaya yang tak terlihat. Fenomena tersebut, tambah dia, lebih banyak terjadi di lapangan yang dilakukan antar pedagang kayu maupun "orang dalam". Untuk mengatasinya, Perhutani Jateng melakukan pembenahan di internal perusahaan. Di antaranya melakukan spin off, yaitu memisahkan bidang organisasi yang mengelola bidang sumber daya hutan dan bidang pemasaran. (mhr, sjs-59) |