logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 31 Desember 2005 EKONOMI
Line

Bank Mandiri Prihatin Utang Garuda

JAKARTA-Sebagai salah satu kreditor, Bank Mandiri menyatakan keprihatinannya atas tidak terselesaikannya restrukturisasi utang PT Garuda Indonesia pada tahun 2005 ini. Secara jujur, maskapai penerbangan nasional itu menyatakan kondisi standstill alias tak sanggup bayar utang.

"Kami dari Bank Mandiri cukup prihatin kalau restrukturisasi Garuda Indonesia tidak dapat diselesaikan," kata Dirut Bank Mandiri Agus Martowardojo di Gedung Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (20/12).

Agus juga mengharapkan ada satu solusi terhadap kondisi keuangan Garuda yang saat ini sedang diupayakan penyehatan kembali keuangannya dengan memperhatikan aspek bisnis re-engineering, restrukturisasi bisnis dan restrukturisasi keuangan.

Utang pokok Garuda yang jatuh tempo pada akhir tahun ini mencapai 48-50 juta dolar AS. Sedangkan bunga yang akan dibayar oleh Garuda mencapai 4 persen per tahun.

Total utang Garuda sebesar 800 juta dolar AS dengan rincian ECA sebesar 500 juta dolar AS, promissory note holder 150 juta dolar AS, serta kepada Bank Mandiri, Angkasa Pura I dan II sebesar 150 juta dolar AS.

Sebagaimana diketahui, kejadian Bom Bali pada bulan Oktober 2005 telah memberikan dampak yang sangat besar terhadap kondisi keuangan Garuda. Kondisi ini mengakibatkan Garuda mengalami kesulitan dalam menentukan dana yang dapat tersedia untuk pembayaran hutang.

Persaingan Ketat

Direktur Utama Garuda, Emirsyah Satar menegaskan selain pengaruh negatif akibat Bom Bali, faktor-faktor lain yang mempengaruhi kinerja Garuda adalah meningkatnya harga bahan bakar, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, meningkatnya suku bunga dan persaingan industri penerbangan yang semakin ketat.

"Kami telah memulai pembahasan dengan para kreditor pada bulan November 2005 untuk menyampaikan kemungkinan-kemungkinan bahwa Garuda akan melakukan standstill terhadap pembayaran "pokok utang" yang jatuh tempo bulan Desember 2005 ini, namun Garuda akan memenuhi pembayaran bunga utang."

Komisaris Utama Garuda, Abdulgani mengatakan Garuda berkomitmen untuk memenuhi prinsip-prinsip restrukturisasi hutang internasional serta melakukan diskusi dan pembahasan dengan para pemegang saham secara fair.

Garuda Indonesia telah menunjuk Danareksa dan Rothschild sebagai penasehat keuangan yang akan membantu Garuda dalam proses pelaksanaan restrukturisasi hutang.

"Garuda akan mengupayakan bahwa pembahasan yang dilakukan dengan kreditor tidak akan membawa dampak terhadap kegiatan operasional dan pelayanan kepada para pelanggan, " tambahnya.

Emirsyah Satar menambahkan, bahwa Garuda akan terus melakukan pembahasan dengan para pemegang saham untuk mencari solusi terbaik atas permasalahan yang terjadi saat ini sesegera mungkin. Dalam kondisi saat ini, Garuda harus menjalankan sikap hati-hati dalam melakukan penanganan cashflow-nya.

Untuk itu, pihaknya merencanakan untuk melakukan pembayaran kepada para supplier, termasuk lessor pesawat agar kegiatan operasional dapat terus berjalan baik dan normal sehingga pendapatan perusahaan dapat ditingkatkan. (bn,dtc-59)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA