logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 31 Desember 2005 BANYUMAS
Line

"Saya Tidak Membutuhkan Formalin"

BANYUMAS- Isu makanan mengandung formalin setidaknya sudah dua kali melanda Banyumas dalam tiga bulan terakhir ini. Tak terkecuali tahu produksi para perajin di Desa Kalisari, Kecamatan Cilongok. Namun mereka yang sudah puluhan tahun mengolah makanan rakyat secara tradisional itu tak terpengaruh isu tersebut.

Seorang perajin, Sodik, mengaku tak kenal bahan itu. ''Kami tak perlu mencampur bahan pengawet, wong sore bikin pagi habis terjual di pasar,'' ujarnya.

Apalagi Dinas Perindustrian dan Perdagangan selalu mengawasi produk mereka. Tahu Kalisari lebih dikenal dengan sebutan tahu Karangsari karena banyak dijajakan di Stasiun Karangsari. Penganan yang kerap dimakan dengan cabai rawit itu berukuran kecil dengan harga Rp 150/biji.

Tahu yang mereka produksi secara turun-temurun itu dikenal gempi, tidak renyah, dan kenyal. Sebab, dibuat melalui pengepresan tradisional. Bukan dicampur bahan kimia seperti formalin.

Salah satu pekerja, Bambang, menuturkan kini bukan lagi formalin yang jadi isu. Melainkan harga bahan bakar minyak dan bahan baku kedelai yang melambung.

Dulu ada koperasi yang menyuplai kedelai. Namun kini koperasi itu tak aktif lagi. Para perajin harus mencari kedelai ke Purwokerto. Biasanya mereka memakai kedelai impor dari AS atau China.

Para perajin kini menggunakan kayu bakar. Pada musim hujan seperti sekarang, kayu bakar terbatas. Namun mereka tetap berproduksi. (P16-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA