| Kamis, 29 Desember 2005 | OLAHRAGA |
Juara Half Marathon di BruneiTrianingsih Raih Hadiah 10.000 Dolar ASDICORET dari tim SEA Games XXIII Manila ternyata tidak melunturkan semangat Trianingsih untuk tetap berprestasi. Hal itu telah dibuktikan di Brunei Darussalam pada Minggu (25/12). Pelari asal klub atletik Locomotive Salatiga itu dapat merebut gelar juara dalam lomba lari half marathon international menempuh jarak 21 km. Hebatnya lagi, pelari-pelari yang dikalahkan adalah atlet-atlet putri undangan dari berbagai penjuru dunia termasuk dari Kenya, negara yang terkenal memiliki pelari-pelari jarak menengah dan jauh tingkat dunia. Atas prestasi dengan catatan waktu 1 jam 32,40 detik, pelari yang hanya memiliki tinggi badan 144 cm itu berhak atas medali emas, piala bergilir berlapis emas, dan hadiah uang tunia 10.000 dolar AS atau hampir Rp 100 juta. Juara kedua dan ketiga direbut oleh dua pelari asal Kenya, yaitu Lenajemutai dan Susan Kurui, yang masing- masing mencatat waktu 1.33,12 dan 1.33,30 detik, terpaut sekitar 300 meter di belakang Trianingsih. Keduanya mendapat hadiah 5.500 dan 4.000 dolar AS, piala tetap, serta medali perak dan perunggu. Hasil tersebut merupakan balasan kekalahan atlet Indonesia Bangkit (PIB) atas Lena, penyandang juara lomba Lari 10 K HUT DKI Jakarta pada akhir Juli 2005. Waktu itu, adik kandung Ruwiyati pemegang Rekornas Marathon SEA Games itu hanya berada di urutan kesembilan. ''Saya puas karena bisa menebus kekalahan di Jakarta. Hasil ini sekaligus bisa menjadi bukti bahwa sebenarnya saya sangat layak diberangkatkan ke Manila. Karena pencoretan atas diri saya bukan masalah prestasi melainkan ada faktor lain,'' tandas Trianingsih. Namun, catatan waktu yang dia capai bukan ukuran prestasi karena nomor yang dilombakan di Brunei merupakan rute semicross country. Jalan yang digunakan sangat menantang, banyak tanjakan dan tikungan. ''Saya bangga karena bisa menaklukkan pelari Kenya yang terkenal tangguh pada tingkat dunia.'' Ditawar Malaysia Dengan prestasi yang mengejutkan tersebut, sebenarnya atlet yang baru menginjak usia 18 tahun itu layak masuk tim SEA Games Filipina lalu. Bukan tidak mungkin ketika itu dua medali emas bisa direbut dari nomor spesialisasinya 5.000 dan 10.000 meter. ''Akhirnya, hanya Oliva Sadi yang bisa merebut medali emas dari nomor lari 5.000 meter. Itu pun bukan spesialis Oliva karena dia sebetulnya untuk nomor 1.500 meter. Untuk 5.000 dan 10.000 meter, Oliva tidak pernah menang dari saya. Bisa dilihat hasil di PON (Pekan Olahraga Nasional) Palembang lalu,'' paparnya. Karena itu, setelah gagal berangkat ke Manila, oleh PT Kereta Api (KA) sebagai sponsor utama dan didukung bantuan dana dari Gubernur Jateng H Mardiyanto, atlet yang disiapkan untuk nomor 10.000 dan maraton (42,195 km) di PON 2008 Kaltim tersebut diberangkatkan ke Brunei sebagai obat kecewa. Prestasi yang dia perlihatkan dari tahun ke tahun cukup menjanjikan, antara lain juara III Junior Asia di Malaysia pada 2004, peraih dua medali emas PON XVI, berlanjut juara di Brunei minggu lalu. Semua itu adalah bukti kehebatannya. Beberapa hari lalu, gadis kelahiran Semarang, 15 Mei 1987 itu diminati Malaysia untuk dikontrak selama lima tahun bersama pelatihnya, Alwi Mugianto. ''Sudah dua kali kami dihubungi Malaysia lewat salah seorang perantara. Namun, tawaran itu kami tolak karena kami tidak mau berkhianat kepada Bapak Mardiyanto yang begitu besar memperhatikan kami. Karena itu, dalam pertemuan di Jakarta, kami belum sampai mengarah pada tawar-menawar harga,'' ungkap Alwi. Bermula Agustus lalu, ketika sebuah perusahaan minuman suplemen mengadakan lomba lari 10 K yang serentak berlangsung di tujuh kota. Waktu itu, Trianingsih tampil di Bali kendati PB (pengurus besar) sudah melarang pelari-pelari nasional tampil di salah satu kota tersebut. Dengan alasan lari di Bali digunakan sebagai ajang uji coba sebelum tampil di Manila, beberapa pelari nasional tetap nekat turun. Dampaknya, tiga pelari dan dua pelatih Jateng, yaitu Trianingsih, Erni Ulatningsih, Agus Prayogo, serta Alwi Mugianto dan Yon Daryono terkena skors sampai SEA Games Manila berakhir. Alwi dan Trianingsih sudah berusaha meminta maaf tetapi PB PASI tetap pada pendiriannya. (Mundaru Karya-28j) |