| Kamis, 29 Desember 2005 | OLAHRAGA |
Pendukung Persebaya Unjuk RasaJAKARTA--Sekitar seratus pendukung Persebaya yang berasal dari Surabaya dan Jakarta Rabu (28/12) kemarin melakukan unjuk rasa ke kantor sekretariat PSSI di kompleks Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Dalam demo sejak tengah hari hingga menjelang pukul 14.00 WIB itu mereka meminta pengurus harian PSSI mempertahankan tim kesayangannya tetap berada di Divisi Utama, tidak menurunkannya ke Divisi I. Sebagian simpatisan kesebelasan berjuluk Bajul Ijo itu datang langsung dari Surabaya dengan menumpang kereta api. Rombongan kemudian berangkat ke Senayan dengan menyewa empat metro mini. Mereka membentangkan berbagai spanduk dan poster dalam kalimat suroboyoan yang isinya menghujat PSSI. Di antaranya, "Opo ga ono meneh wong sing mimpin PSSI selain napi?" (Apa tidak ada orang lain yang memimpin PSSI selain narapidana? Atau, "Ya opo PSSI iso adil wong ketuane dipenjara?" (Mana bisa PSSI adil kalau ketuanya dipenjara). Berbagai kalimat dalam spanduk, poster serta orasi yang dilontarkan perwakilan pengunjuk rasa itu umumnya memang ditujukan kepada Ketua Umum PSSI Nurdin Halid yang saat ini masih berada di dalam sel Rutan Salemba, Jakarta Pusat. Wajar Saat unjuk rasa berlangsung, tak seorang pun pengurus harian PSSI yang berada di Senayan. Koordinator pengunjuk rasa Nurhasim serta empat perwakilan korlap akhirnya diterima oleh Sekretaris Eksekutif John Halmahera bersama dua stafnya, Keliek dan Dadang. "Mereka menyampaikan aspirasi dan unek-unek tidak bisa menerima keputusan yang dikeluarkan oleh pengurus harian PSSI. Menurut mereka, Persebaya sebagai institusi tidak perlu dihukum lagi. Hukuman itu sudah cukup diterima pengurus-pengurusnya," kata John, seusai menerima Nurhasim dkk di ruang rapat PSSI. Pengurus harian PSSI sebelumnya menetapkan Persebaya terdegradasi ke Divisi I mulai musim kompetisi 2006 ini. Selain itu, dua mantan pengurusnya, yakni Ketua Harian H Susanto dan Manajer Tim Saleh Mukadar, dikenai skorsing masing-masing tiga dan dua tahun. Keduanya melengkapi daftar terhukum dari kubu Persebaya, setelah Bambang Dwi Hartono -mantan ketua umum- diskors 10 tahun tak boleh terlibat dalam kegiatan sepak bola. Sehubungan dengan adanya demonatrasi pendukung Persebaya itu, Sekjen PSSI Nugraha Besoes yang dihubungikemudian, menyatakan, aksi demo atau unjuk rasa yang dilakukan tersebut wajar-wajar saja, walau hal itu tidak akan mengubah apa yang sudah diputuskan. "Kalau pendukung Persebaya mencermati benar keputusan dari komisi disiplin dan komisi banding sebelumnya, maka sebenarnya mereka justru harus berterima kasih," tegasnya. Menurut dia, dalam alam demokrasi yang tengah berkembang di Indonesia saat ini, haruslah dianggap wajar jika ada pihak-pihak yang menyampaikan aspirasi, unek-unek, atau ketidakpuasannya. "Entah itu melalui surat, sms, atau demo seperti yang dilakukan pendukung Persebaya itu," katanya. Ketua Umum Persebaya Arif Affandi mengatakan, aksi unjuk rasa di kantor sekretariat PSSI itu murni dari kalangan suporter Persebaya sendiri, bukan atas kehendak pengurus baru yang dipimpinnya. "Kalau pun ada perorangan yang terlibat, saya tidak tahu, yang jelas Persebaya secara institusi tidak," tegasnya di Surabaya.(wgm-22) |