logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 29 Desember 2005 WACANA
Line

Program Skripsi Harus Dipertahankan

Oleh: Mohamad Arifin - Mahasiswa FTI Unissula

PROGRAM sarjana nonskripsi belakangan ini sudah banyak bermunculan. Kemunculannya mendapat respons hangat dari beberapa kalangan akademisi. Paling tidak keberadaan program ini sebagai alternatif pencetak sarjana kilat sekaligus menjadi parasit terhadap biro-biro jasa pembuat skripsi.

Memang beberapa kalangan mahasiswa masih menganggap skripsi adalah momok yang menakutkan. Acapkali terdengar kata skripsi, dalam benak mereka selalu terbayang suatu proses yang sulit, lama dan melelahkan. Hal itu ditengarai dengan banyaknya mahasiswa yang terlambat mengenakan toga wisuda. Tak ayal bila mahasiswa mendapat sebutan sebagai "mahasiswa abadi". Maka program nonskripsi dianggap sebagai solusi jitu untuk dipilih.

Menurut hemat penulis, dibukanya program sarjana nonskripsi bukan langkah yang tepat. Terlihat adanya jalur potong kompas yang menyelubunginya. Bagaimana tidak? Ada siklus mata rantai yang hilang, berupa skripsi.

Oleh beberapa pakar pendidikan, skripsi masih dipandang sebagai tradisi keilmuan, Sekaligus sebagai bukti terujinya intelektualitas mahasiswa di forum akademik. Bukankah skripsi sebagai sarana berlatih menulis dan menuangkan buah pikiran? Di situ mahasiswa dituntut untuk selalu aktif, kreatif dan inovatif. Mengapa hal tersebut harus dihilangkan eksistensinya?

Kalaupun program sarjana nonskripsi masih bergulir, tentu harus dibarengi dengan program-program unggulan yang memiliki basis kompetensi yang sama dengan program unggulan sejenis skripsi.

Hal yang paling ditakutkan kelak akan ada program baru di dunia pendidikan, berupa program S2 tanpa tesis dan program doktor (S3) tanpa disertasi.

Pepatah mengatakan "tiada gading yang tak retak". Tentu skripsi bukanlah program unggulan yang tak memiliki kekurangan. Tetapi kalau kita telisik Iebih lanjut, paling tidak keberadaannya banyak menelurkan intelek-intelek muda yang siap tampil sebagai primadona di negeri ini. Jadi harus dikatakan bahwa skripsi masih releven dan harus tetap dipertahankan sampai saat ini dan kapan pun. (24)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA