| Kamis, 29 Desember 2005 | EKONOMI |
2006, Sektor Properti MelemahSEMARANG-Bisnis properti tahun 2006 diperkirakan akan mengalami kelesuan. Hal ini dipicu laju inflasi yang masih meninggi dan akan memengaruhi tingkat suku bunga perbankan. Selain itu daya beli masyarakat juga belum mampu terdongkrak, meski awal 2006 sudah mulai diberlakukan upah minimum kota/kabupaten. Ketua DPD Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) Sudjadi mengatakan pertumbuhan investasi di sektor properti tahun 2006 akan mengalami penurunan hingga 20-30% dibandingkan tahun sebelumnya. Menurut dia, apabila peningkatan pembangunan perumahan dan tingkat penjualan antara 2005 dan 2006 sebanding, maka itu sudah bisa dinilai bagus. "Tahun depan kami menargetkan pembangunan perumahan bisa mencapai 8.000 unit per tahun. Tahun ini pembangunan kami hanya bisa mencapai 6.000 unit. Kalau melihat kondisi perekonomian saat ini, maka sudah bagus bila pembangunannya mampu memperoleh jumlah yang sama dengan tahun sebelumnya," katanya Rabu (28/12). Saat ini suku bunga perbankan rata-rata mencapai 19-20%. Karenanya para pengembang akan merasa kesulitan, terutama pengembang segmen rumah sederhana sehat (RSH). Hal ini karena BI Rate, yang saat ini mencapai 12,75%, masih berpotensi mengalami kenaikan pada masa mendatang. Ia hanya bisa berharap tingkat suku bunga tidak terus melambung. Dia mengatakan sektor properti usaha mikro yang membutuhkan modal akan semakin kesulitan menjangkau pinjaman perbankan. Sudjadi juga mengatakan hal serupa diperkirakan akan terjadi pada rumah segmen menengah ke atas. Kondisi Makro Sementara itu Priyono, Ketua Perhimpunan Bank-bank Umum Nasional (Perbanas) Jateng mengatakan perbankan saat ini lebih menekankan sikap kehati-hatian, termasuk dalam mengucurkan kredit kepemilikan rumah (KPR). Ia mengatakan pertumbuhan kredit yang mencapai 20% tahun ini tak terlepas dari angka risiko kredit macet atau non-performing loan (NPL) yang juga turut meningkat. "Peningkatan NPL ini dimungkinkan masih akan terjadi pada tahun mendatang hingga semester pertama. Karenanya bank memilih menahan kucuran kreditnya duluakibat kondisi makro ekonomi belum bagus," katanya. Selain sikap perbankan yang menahan kredit, kata Priyono, developer properti nampaknya juga enggan mengajukan kredit perbankan. Pasalnya, biaya usaha yang tinggi menjadikan mereka hanya wait and see. Ia berharap triwulan III dan IV tahun 2006, kondisi makro ekonomi sudah bisa pulih dan membaik. (mhr-33) |