| Kamis, 29 Desember 2005 | EKONOMI |
Pertumbuhan Ekonomi 2005, Prospek 2006 (1)Pemda Berupaya Dongkrak Daya Saing InvestasiSEJUMLAH tantangan pembangunan perekonomian tahun 2006 siap mengadang. Tahun 2005 yang sebentar lagi ditinggalkan menyisakan catatan yang tak begitu bagus bagi dunia bisnis. Untuk bisa menyiasatinya, Jawa Tengah perlu menyiapkan strategi jitu agar mampu bersaing. Wartawan Suara Merdeka Moh Anhar menuliskannya dalam laporan berseri. BERAGAM pertanyaan segera muncul bila kita menghitung sisa hari dalam kalender 2005. Banyak hal yang bisa diulas sepanjang tahun ini, termasuk bidang perekonomian. Sayangnya, dari berbagai diskusi yang menghadirkan praktisi dan pakar ekonomi, umumnya bermuara pada kesimpulan sama, yakni ekonomi sedang kritis. Seperti yang terungkap dalam Seminar Evaluasi Perkembangan Perekonomian Jateng 2005 dan Prospek 2006 di Kantor Bank Indonesia Semarang Rabu (28/12). Seminar itu menghadirkan pembicara Wagub H Ali Mufiz, pengamat ekonomi Sri Adiningsih, dan Koordinator Kantor Bank Indonesia Jateng-DIY Amril Arief. Dilihat dari skala nasional, stabilitas ekonomi memburuk. Begitu pula laju pertumbuhan ekonomi menurun. Kepercayaan publik terhadap perekonomian dan daya saing produk domestik yang merosot benar-benar menjadi ancaman bagi pembangunan ekonomi. Meski tim ekonomi telah terbentuk beberapa waktu lalu, publik masih sekadar menaruh harapan pada realisasi dari program-program yang dilakukan. Pascakenaikan harga BBM per 1 Oktober lalu, ternyata menggelindingkan "bola salju besar" yang berimbas sektor perekonomian lain. Di Jateng, laju inflasi membubung tinggi dari 9,11% pada September 2005 menjadi lebih dari 17% mulai Oktober hingga kini. Karenanya tak salah bila Ali Mufiz menandaskan pertumbuhan ekonomi Jateng tahun ini turun. Ia menunjukkan indikasi itu bisa dilihat dari realisasi ekspor yang terus anjlok hingga akhir tahun. Pada triwulan I, nilai ekspor yang berhasil dicapai sebesar 749.534 dolar AS, disusul triwulan II 687.973 dolar AS, dan triwulan III 375.773 dolar AS. Andalan produk ekspor pun masih bertumpu pada mebel, tekstil dan pakaian jadi. Jangka Pendek Lebih lanjut Wagub mengatakan, perkembangan ekonomi di Jateng dipengaruhi dua faktor, yakni perekonomian nasional dan daerah kabupaten/kota. Pengembangan daerah, lebih cenderung mengarah kepada pembangunan jangka pendek, misalnya periode 2003-2008 yang mengikuti masa jabatan Pemda. Ia menjelaskan tahapan dari rentang waktu periode itu, yaitu penguatan kemandirian, peningkatan investasi. dan konsolidasi meningkatkan kemampuan daya saing. "Secara kategoris, ada dua isu yang penting untuk diperhatikan, yaitu peningkatan produktivitas dan pemberdayaan potensi lokal," katanya. Pada tahun 2006 nanti, Pemda menekankan program untuk meningkatkan daya saing daerah. Selama ini persaingan yang terjadi tak hanya di tingkat antarprovinsi, tetapi juga antarkabupaten/kota. Pemda juga akan berupaya memperkuat bisnis-bisnis yang telah berhasil dicapai pada 2005. Karena pembangunan merupakan sebuah kontinuitas yang terus berlanjut. Yang lebih penting lagi adanya kemampuan menciptakan iklim usaha yang kondusif. Hal ini dilakukan sebagai upaya mengurangi kemiskinan dengan meningkatkan minat berinvestasi. Karena investasi tidak mungkin dapat dilakukan tanpa adanya iklim usaha yang baik. "Salah satu yang paling sering didorong agar dapat diaplikasikan pemkab atau pemkot, yaitu mendirikan one stop service atau pelayanan satu atap. Namun hingga kini baru ada 8 daerah yang bisa menerapkan," katanya. Di sisi lain untuk menarik investasi, Pemda juga menggencarkan program perluasan infrastruktur. Tidak hanya pembangunan jalan tol, tapi juga mengembangkan fasilitas pelabuhan dan bandara. Ia mengatakan, setiap ada investor yang masuk, maka pertanyaan yang selalu diajukan, yakni ketersediaan dan kenyamanan di bidang transportasi. Mereka, kata Wagub, tidak mau menemui kendala dalam hal lalu lintas. (33) |