logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 29 Desember 2005 EKONOMI
Line

Tak Mudah Ekonomi Tumbuh 6,2 %

YOGYAKARTA-Pakar ekonomi Fakultas Ekonomi UII Yogyakarta, Prof Dr Edy Suandi Hamid MEc merasa pesimistis, karena tidak mudah mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 6,2 persen seperti ditetapkan dalam APBN 2006.

"Mampukah fiskal mendukung untuk mewujudkan target itu? "tanya Ketua ISEI Yogyakarta itu pada seminar "Refleksi Ekonomi 2005 dan Prospek Ekonomi 2006". Seminar diadakan atas kerja sama ISEI Yogyakarta, Program Diploma Ekonomi UGM dan JEBI Ekonomi UGM di ruang sidang Diploma FE UGM Yogyakarta (Rabu, 28/12).

Apalagi semua asumsi untuk mendukung target itu boleh dikatakan over optimistic. Seperti harga minyak dunia 40 dolar AS (sekarang 60 dolar AS), produk minyak dalam negeri bisa mencapai 1.075 juta barrel per hari, inflasi bisa ditekan sepertiga dari inflasi 2005, yakni 7 persen, dan nilai tukar rupiah Rp 9.400 (sekarang Rp 9.800-an).

Menurut Prof Edy, jika melihat kinerja ekonomi 2005, maka target 2006 bisa jadi berlebihan. Berbagai target ideal yang dicanangkan pada 2005 ternyata tidak terwujud, dan tim ekonomi yang tidak solid dengan fokus kebijakan yang tidak jelas serta ditambah kondisi ekonomi dunia yang tidak mendukung, khususnya harga minyak yang bergejolak tinggi, mengakibatkan kinerja ekonomi nasional merosot. "Pertumbuhan ekonomi di bawah target, dan penganguran serta penduduk miskin bertambah. Selain itu, inflasi dan suku bunga meningkat serta rupiah merosot dan sebagainya," imbuhnya.

Karena itu, lanjut staf pengajar di FE dan Pascasarjana UII, UGM dan UMS itu, cukup realistis kalau IMF dan Bank Indonesia (BI) sama-sama memprediksi pertumbuhan ekonomi 2006 di bawah yang ditargetkan pemerintah.

BI memprediksi 5,9 persen dan IMF lebih pesimis lagi hanya sekitar 5-5,5 persen. Semua prediksi itu berada di bawah laju pertumbuhan negara berkembang umumnya yang diprediksikan tumbuh 6,1 persen dan juga di bawah target APBN 6,2 persen. Namun, lanjutnya bukan berarti target 6,2 persen yang sebenarnya relatif rendah untuk mendukung pemecahan masalah fundamental ekonomi itu, tidak bisa terwujud. Karena reshuffle kabinet yang dilakukan awal bulan ini memberikan secercah harapan akan kinerja tim ekonomi yang lebih baik, kompak dan profesional. (P12-33)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA