| Kamis, 29 Desember 2005 | EKONOMI |
2006, Pemerintah Yakin Inflasi Satu DigitJAKARTA-Pemerintah ingin agar melambatnya pertumbuhan ekonomi 2005 tidak berlanjut di tahun 2006. Sebaliknya akan diupayakan membalikkan tren ke arah pertumbuhan. Dengan koordinasi antara otoritas fiskal dan moneter pemerintah juga bertekad inflasi yang saat ini cukup tinggi berkisar 17%, bisa semakin ditekan, sehingga akhir 2008 sudah kembali ke satu digit. "Karena pengalaman 2005, stabilitas ekonomi dan inflasi harus jadi fokus. Tujuannya, jangan sampai inflasi makin melonjak, tapi menariknya ke bawah, sehingga menjelang akhir 2006 bisa single digit," kata Menko Perekonomian Boediono ketika menjelaskan hasil rapat paripurna kabinet di Kantor Presiden, Rabu (28/12). Boediono menyebut ada empat hal yang dibahas dalam rapat yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan dihadiri seluruh menteri. Pertama, inventarisasi masalah untuk percepatan pertumbuhan ekonomi. Kedua, stabilisasi inflasi. Ketiga, upaya penciptaan lapangan kerja dan mengurangi pengangguran. Dan keempat, mengurangi kemiskinan yang menjadi tema kebijakan ekonomi 2006. Membalik Tren Untuk mewujudkan keempat hal itu, selain membalik tren pertumbuhan ekonomi, pemerintah akan melakukan strategi fiskal dan moneter pada semester I 2006 dengan cara menggalang stimulus fiskal sebanyak mungkin. Stimulus lewat APBN ini, antara lain dilakukan dengan mempercepat disbursement proyek-proyek yang dibiayai pinjaman luar negeri. "APBN sebanyak mungkin dilakukan pada semester I 2006, supaya bisa menjadi stimulus untuk menumbuhkan ekonomi. Kami akan bicara dengan gubernur dan bupati agar jangan terjadi akumulasi dana nongkrong yang belum terpakai di daerah-daerah," kata mantan menkeu ini. Kebijakan fiskal ini akan dikoordinasikan dengan langkah di bidang moneter agar mulai semester II suku bunga perbankan dan inflasi sudah bisa turun untuk ikut memberikan dorongan bagi pertumbuhan ekonomi dan dunia usaha. Pertumbuhan ekonomi juga akan didorong dengan memperbaiki iklim investasi dan menghilangkan berbagai hambatan yang menghalangi masuknya penanaman modal. "Skenario kita, pada semester II sudah dimulai dengan full skim untuk jadi motor penggerak. Tapi semester I sudah ada tanda-tanda ke arah itu," imbuhnya. Upaya lain, bagaimana mempercepat pelaksanaan proyek-proyek infrastruktur. "91 proyek besar yang ada kita lihat hambatannya apa, supaya pelaksanaannya bisa dipercepat," kata Boediono. (A20-33) |