logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 29 Desember 2005 BANYUMAS
Line

Catatan Akhir Tahun di Banyumas (4-Habis)

Pembangunan dan Bencana Datang Silih Berganti

GELIAT Banjarnegara sebagai kota kecil yang lebih dikenal dengan kota pensiunan ini mulai menunjukkan perubahan. Pembangunan sejumlah fasilitas fisik dan sarana publik yang mendukung program pembangunan masyarakat, terbukti mulai bisa mengurai hambatan geografis Kabupaten Banjarnegara yang berbukit-bukit. Kunci untuk membuka kondisi terisolasi itu adalah pembangunan jalan sampai ke desa-desa.

Tak hanya masyarakat Banjarnegara, kondisi geografis yang berbukit dan sarana jalan yang kurang memadai juga menjadikan potensi sumber dayanya tidak dilirik oleh kalangan investor. Mereka enggan untuk masuk Banjarnegara dan mengolah potensi pertanian, pariwisata, dan bahan galian tambang yang terkandung di bumi kota dawet ayu itu.

Tekad untuk benar-benar membuka Banjarnegara dicanangkan oleh Bupati Djasri dengan gagasan Banjarkebuka. Banjarkebuka adalah ide untuk membuka akses tiga kabupaten yang berada satu garis lurus, tetapi selama ini tidak diberdayakan. Yakni Banjarnegara, Kebumen, dan Pekalongan. Dengan Banjarkebuka, diharapkan tiga kabupaten tersebut bisa saling bertransaksi potensi masing-masing daerahnya.

Bagian selatan Banjarnegara mempunyai potensi kayu yang cukup besar dan diketahui dibutuhkan masyarakat Kebumen serta daerah sekitar. Sementara itu, bagian tengah dan utara mampu menghasilkan komoditas pertanian dan sayuran yang melimpah. Bagi daerah pesisiran seperti Pekalongan, komoditas tersebut sangatlah dibutuhkan. Selain itu, terbukanya akses masuk Banjarnegara juga memungkinkan investor untuk turut mengolah potensi galian seperti andesit, marmer, batu lempeng, feldspar, dan pasir kwarsa yang tersebar di 13 kecamatan.

Tahun ini Kabupaten Banjarnegara telah memulai dengan meningkatkan kualitas sejumlah jalan tembus menuju Kabupaten Kebumen. Antara lain yang melalui jalur Gandulekor-Sempor dan jalur Pagedongan. Alhasil, masyarakat di pinggiran jalur itu pun merasakan kemudahan akses transportasi.

Namun, usaha membuka Banjarnegara pada 2005 ini tak hanya menemui hambatan soal dana. Faktor alam berwujud bencana tanah longsor ataupun tanah ambles tak sedikit yang turut memorakporandakan sarana fisik yang telah dibangun sebelumnya. Tengoklah bencana tanah longsor di tiga desa, yakni Pasegeran, Sinduaji, dan Pandanarum. Kecamatan Pandanarum pada Oktober 2005 lalu yang membuat 227 jiwa mengungsi serta puluhan rumah hancur.

Tak hanya itu, jalan dan jembatan sebagai penghubung daerah-daerah terpencil di wilayah utara Banjarnegara ini juga turut rusak. Sebelumnya, pada Juli 2005, 68 keluarga di Dusun Sirawa, Desa Pandansari, Kecamatan Wanayasa juga terpaksa direlokasi akibat tanah tempat mereka membangun rumah ambles.

Meski tak ada bencana, kondisi tanah yang labil dan mudah bergerak ini kerap menyibukkan Pemkab untuk memperbaiki sejumlah jalan kabupaten. Seakan pembangunan dan bencana datang silih berganti. Belum lama ini, hampir satu bulan jalur Banjarnegara-Pekalongan putus di daerah Karangkobar.

Pekerjaan Rumah

Meski telah berhasil merampungkan sejumlah agenda pembangunan, beberapa proyek pembangunan fasilitas publik masih belum terselesaikan dan menjadi pekerjaan rumah. Antara lain pembangunan kompleks Stadion Banjarnegara dan pasar sayur Banjarnegara.

Masyarakat mesti bersabar menunggu selesainya pembangunan stadion baru yang berada sekitar 100 meter sebelah utara stadion lama (kini pasar darurat), yang dianggarkan Rp 15 miliar lebih. Demikian juga dengan pembangunan pasar sayur Banjarnegara senilai Rp 23,474 miliar yang seakan tak sepi dirundung masalah.

Setelah memutus kontrak pembangunan dengan PT Pilar Baja Utama (PBU) Cabang Jateng pada 31 Mei 2005 lalu, pembangunan dilanjutkan oleh investor PT Ina Hasta Mandiri (IHM). PT PBU hanya bisa menyelesaikan pembangunan 14,831% dari target pembangunan 27% sampai dengan akhir Mei 2005.

Pergantian investor juga tak langsung menyelesaikan permasalah seputar pembangunan pasar itu. Sepekan kemarin, Pemkab Banjarnegara nyaris memutus kontrak PT IHM, jika investor tersebut tak buru-buru memberikan jaminan dana senilai Rp 19 miliar.

''Kami berharap pembangunan pasar bisa secepatnya diselesaikan, supaya tidak terjadi penumpukan masalah. Kasihan para pedagang yang kini berada di pasar darurat di stadion lama, kondisinya sepi pembeli. Sebagian sudah bangkrut dan selebihnya menuju bangkrut,'' kata anggota Komisi C DPRD Banjarnegara, Nur Sulistiyanto.

Sepanjang 2005 ini, perbincangan warga Banjarnegara juga tak lepas dari isu seputar pilkada yang rencananya digelar 12 September 2006. Dari mulai pedagang sayuran kecil-kecilan, tukang becak sampai pegawai sejumlah instansi Pemkab Banjarnegara, menjadikan isu pilkada sebagai bahan pembicaraan hangat.

Wacana yang beredar, saat ini tiga orang pejabat eksekutif yang masih aktif dikabarkan akan maju dalam pilkada. Bahkan, mereka telah aktif mengadakan penggalangan dukungan masyarakat jauh-jauh hari. Aktivitas ini pun kemudian diingatkan oleh DPRD Banjarnegara dalam pandangan fraksi-fraksi, saat membahas RAPBD tahun 2005 (4/4-5/4) lalu.

DPRD mengingatkan agar mereka konsentrasi dulu pada tugas-tugas pelayanan publik dan pembangunan daerah yang menjadi tugas pokok. Jangan sampai masyarakat terbengkalai hanya karena urusan persiapan pilkada yang jelas-jelas masih lama.

''Kami berharap tahun depan pembangunan di Banjarnegara lebih baik lagi dan terbebas dari kepentingan politik tertentu dalam rangka pilkada,'' ungkap Ketua Partai Bintang Reformasi, Hana Pur Dwiatmoko. (M Syarif SW-42s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA