| Selasa, 27 Desember 2005 | SALA |
Banyak Orang Tua Malas ke PosyanduKLATEN- Kemiskinan menjadi faktor utama munculnya penyandang anak balita gizi buruk. Keminiman penghasilan keluarga menyebabkan orang tua enggan menyediakan makanan khusus untuk bayinya guna menopang pertumbuhan. ''Ini yang kami temukan di lapangan. Meskipun demikian, kami puas karena jumlah anak balita penyandang gizi buruk turun dari 413 menjadi 239 anak,'' tutur dokter Roni Rukminto, Kasubdin Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat (DKKS) Pemkab Klaten. Ditemui di kantornya, Senin (26/12) dia mengatakan, sebagian orang tua hanya menyediakan satu jenis masakan untuk seluruh anggota keluarga. Anak balita dalam keluarga tersebut terpaksa ikut mengonsumsi makanan yang sama. Padahal, untuk menopang pertumbuhan maka anak balita membutuhkan jenis makanan sendiri. Faktor lain, tuturnya, kurangnya kesadaran orang tua untuk membawa sang anak ke posyandu. Mereka menganggap pergi ke posyandu hanya menghabiskan waktu, karena menilai anaknya sehat dan tidak rewel. ''Padahal dengan menimbang anak balita secara rutin setiap bulan bisa diketahui perkembangan badan anak balita. Di sana, orang tua juga bisa berkonsultasi masalah kesehatan serta menu makanan yang baik untuk anak.'' Apa upaya DKKS untuk mengatasi persoalan tersebut? Dia menguraikan, berbagai upaya dilakukan seperti penyuluhan dan pemberian bantuan. Penyuluhan dilakukan melalui posyandu, di bawah koordinasi puskesmas setempat. ''Contoh nyata, penyuluhan tentang makanan sehat. Selama ini ada anggapan keliru pada sebagian warga bahwa makanan sehat dan bergizi adalah makanan yang berharga mahal. Pandangan itu sangat keliru, karena makanan sehat bisa diperoleh dengan murah. Sayuran seperti bayam cukup sehat dan mudah dicerna anak balita. Tak usah pakai susu untuk mencapai lima sempurna, dengan empat sehat saja sudah cukup.'' (G10-36s) |