| Selasa, 27 Desember 2005 | SALA |
Nyaris Dipecat gara-gara Mengkritik lewat KartunSRAGEN- Maestro kartunis Indonesia GM Sudarta punya standar sendiri dalam menimbang bobot kritik lewat kartun. Jika yang dikritik lewat karyanya ternyata marah, itu berarti misinya tidak berhasil. Sebab, kartun harus lucu, tidak sarkastis (kasar), dan mempunyai pesan tertentu untuk perbaikan. ''Kalau yang dikritik marah, berarti saya merasa tidak berhasil,'' tutur GM Sudarta, saat menyampaikan ''Hidup Cara Jawa'' di Pendapi Sukowati Jl Dr Wahidin No 9 Sragen, Sabtu (24/12) petang. Saat tampil di Sragen, GM Sudarta kelahiran Klaten 55 tahun silam itu mengusung klenengan Laras Madya atas undangan sesepuh Komunitas Pendapi Sukowati Agus Fatchur Rahman SH. GM Sudarta mengakui, setiap kali membuat kartun berisi kritik, dirinya selalu tidak pernah terus-terang, tetapi harus melingkar-lingkar dan baru bisa dipahami. ''Kartunis barat pun mengakui, kalau kartunis di Indonesia tidak pernah terus-terang dalam menuangkan kritik lewat kartun,'' tutur kartunis harian Kompas tersebut. Dengan cara tidak langsung itu pun, masih banyak pihak yang marah karena merasa dikritik. Padahal, dia berharap penerima kritik (pengambil kebijakan) yang melihat kartunnya di harian nasional terkemuka itu bisa tersenyum, kemudian melakukan suatu perbaikan atau perubahan. Agar Dipecat Namun tidak semua yang dikritik tersenyum, ada juga yang malah marah. Salah satu kartun yang membuat heboh, ketika dia menorehkan kartun seorang dokter berkaca mata hitam mirip Zorro, berkata kepada pasiennya, pilih harta atau nyawa dengan menunjukkan peralatan suntiknya. Kala itu, segala jenis obat-obatan naik tajam, sehingga biaya berobat ke dokter cukup tinggi. Tetapi dampak karya kartun itu sungguh luar biasa. Sebab, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Pusat berkirim surat ke kantor meminta dia dipecat. Kemudian, GM Sudarta menguraikan kisah kritikannya lewat kartun untuk para petinggi. Dia mengatakan, mantan Presiden BJ Habibie tidak marah terhadap kritiknya, tetapi juga tidak peduli. Mantan Presiden Megawati merasa sering dipojokkan lewat kritik pers. Pernah pula karena kartun itu, dia didatangi seseorang berambut cepak yang menemui di kantornya sambil menepuk-nepuk sesuatu di pinggang untuk mengitimidasi. ''Yang ditepuk-tepuk itu mungkin sejenis senjata,'' katanya sambil tersenyum. Pengalaman yang lain, ketika mengkritik Badan Pengelola dan Penyangga Cengkih (BPPC) yang dikelola Tommy Soeharto. Dalam kartunnya, GM menggambarkan orang setelah mengisap rokok kemudian muntah-muntah sampai nyaris mati, tetapi tetap menyebut kalau cengkih tetap nikmat dan harum baunya. Setelah kritik itu muncul, kemudian ada perubahan BPPC. Ada pula seorang pejabat minta kopi kartun untuk dipakai membuat cendera mata dari piring keramik yang dibagikan kepada kolega pejabat itu. Tidak dipungkiri, karya kartun GM Sudarta bisa membuat orang marah, dongkol, mengernyitkan kerut kening, tersenyum bahkan tertawa terbahak.(nin-36s) |