logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 27 Desember 2005 SALA
Line

Kunjungan Kerja Pemkot Surakarta ke Padang (1)

Solo Harus Giatkan Kembali Resik-resik Kutha

PENGHARGAAN Adipura bukan sekadar simbol kebersihan kota. Lebih dari itu, penghargaan bagi kota berpredikat terbersih itu juga meliputi aspek lain, seperti manajemen kebersihan dan penataan suatu kota serta partisipasi masyarakat.

Luputnya penghargaan Adipura pada 2005 ini, tentu bukan hanya karena performance Solo yang tidak lagi berseri (bersih, sehat, rapi, indah; slogan yang pernah populer pada masa kepemimpinan Wali Kota Hartomo). Bisa jadi akibat keminiman partisipasi masyarakat, keterbatasan manajemen, dan tentu masalah pedagang kaki lima (PKL) yang sampai kini tidak kunjung selesai.

Barangkali, Solo bisa belajar dari Kota Padang. Tidak sama memang, karena penduduk Padang tidak sepadat Solo. Dari luas wilayah 695 km2 serta dihuni sekitar 900.000 penduduk -meski hanya seluas 180 km2 yang bisa dikembangkan karena selebihnya merupakan barisan bukit dan lautan- tentu tidak sebanding dengan luas Solo sekitar 44 km2 yang dihuni sekitar 500.000 penduduk.

Kota yang berada di wilayah Sumatra Barat itu memang tampak bersih dan terawat, meski didominasi bangunan tua. Jalan sepanjang kota tampak bersih, tidak seperti Solo yang hampir di setiap sudut jalan bisa ditemui pedagang kaki lima (PKL) dan pengamen jalanan. Di Padang, PKL hanya berada pada zoning tertentu dengan penataan yang cukup rapi dan sistem knock down (bongkar pasang).

Manajemen kebersihan di kota yang lebih dari 50% penduduknya merantau itu, barangkali bisa diterapkan di Solo. Yakni melalui Gerakan Ketertiban, Kebersihan, dan Keindahan (K3) yang melibatkan seluruh warga di 11 kecamatan (terdiri atas 104 kelurahan), LSM, organisasi sosial serta sejumlah instansi seperti sekolah, universitas, dan swasta.

Maka, tak heran bila kota santri itu mendapatkan penghargaan Adipura 13 kali, 11 kali di antaranya berturut-turut. Adapun pada masa reformasi antara 1997-2003 memang tidak ada penilaian dari Pusat. Dari sini terlihat jelas disiplin yang dimiliki warga serta pemerintah setempat dalam mengelola kebersihan kota. Sementara, Solo hanya delapan kali menerima penghargaan Adipura.

Menurut Asisten Tata Praja Kota Padang Syamsudin Nur, setiap minggu Gerakan K3 sudah terjadwal rapi.

"Pada minggu pertama, yang mendapat giliran adalah kecamatan A, minggu berikutnya kecamatan B, dan seterusnya untuk bergotong royong di lingkungan masing-masing. Baru pada minggu terakhir setiap bulan, semua kecamatan secara serempak melakukan Gerakan K3," kata dia, saat menerima kunjungan kerja rombongan Pemkot Surakarta, Senin (19/12) lalu.

Saat kepemimpinan Wali Kota Hartomo pada awal 90-an, slogan "Berseri" begitu membumi dan ditaati warganya. Seluruh warga giat melakukan kerja bakti secara rutin.

Selain itu, program Resik-Resik Kutha yang pernah dilakukan Pemkot saat ulang tahun hari jadinya pada 2003 lalu, terbukti mampu meningkatkan kepedulian warga akan kebersihan kota. Dan hasilnya, kala itu memang Solo berhasil meraih penghargaan Adipura dua kali, 2003 dan 2004.

"Wali Kota semestinya kembali menggiatkan gerakan seperti Resik-Resik Kutha, apalagi slogan yang dipakai Wali Kota adalah "Berseri Tanpa Korupsi". " (Anie R Rosyidah-42s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA