logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 27 Desember 2005 SALA
Line

Evaluasi Pembangunan Kabupaten Boyolali 2005

Pembangunan Fisik Belum Memuaskan

LAJU pembangunan fisik di Kabupaten Boyolali selama 2004 boleh dibilang cukup pesat. Berbagai gedung perkantoran, jembatan, tempat pendidikan, dan pembangunan fisik lain sudah cukup menyentuh kepentingan orang banyak.

Namun, tidak semua pembangunan fisik dirasakan manfaatnya secara optimal oleh masyarakat luas. Salah satu di antaranya pembangunan Pasar Sunggingan, Kecamatan Boyolali; Pasar Ampel, Kecamatan Ampel; dan Pasar Pengging, Kecamatan Banyudono.

Kepala Bappeda Kabupaten Boyolali, Robert Andolia Pindonga mengatakan, pembangunan kedua pasar tersebut harus berkelanjutan. Dengan kata lain, masih diperlukan perbaikan atau renovasi, sehingga bisa difungsikan secara optimal.

Dia menyadari pembangunan fisik berupa gedung, jembatan atau lainnya belum tentu bisa memuaskan semua pihak.

"Seperti halnya pembangunan pasar masih harus berkelanjutan," katanya.

Pembangunan pasar, ungkap Andolia, pada hakikatnya untuk lebih meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Boyolali pada 2004 lima-enam persen. Untuk tahun mendatang angka itu diharapkan mengalami peningkatan signifikan.

Pembangunan ketiga pasar tersebut memerlukan biaya tidak sedikit. Untuk Pasar Pengging biaya Rp 9 miliar, Pasar Ampel Rp 11 miliar, dan Pasar Sunggingan Rp 12,6 miliar.

Harga Mahal

Ketua DPRD Kabupaten Boyolali Saptoto mengatakan, meski pihaknya menyetujui pembangunan ketiga pasar tersebut, ternyata masih belum menyentuh kepentingan pedagang.

Salah satu di antaranya harga kios di Pasar Pengging terlalu mahal. Dampaknya, pedagang keberatan dan sebagian mengurungkan.

"Ini yang saya namakan pembangunan pasar belum menyentuh kepentingan pedagang," kata dia.

Selain itu, Saptoto juga menilai transaksi yang diterima pedang cenderung berkurang, karena jumlah pedagang terlalu banyak. Inilah salah satu aspek yang menyebabkan pembangunan pasar diperlukan keberlanjutan, baik dalam penataan kios maupun harga.

Kritik pembangunan kurang menyentuh kepentingan pedagang juga datang dari aktivis LSM Partisipasi Development Institute (PADI), Suyatno. Dia mengatakan, sejak Pasar Sunggingan dibangun, penghasilan pedagang justru tidak menentu. Sebab, penataan dasaran atau los tidak jelas dan lebih banyak berpihak kepada pedagang baru.

Selain itu, banyak permasalahan yang menjadikan pedagang rugi dan penghasilan turun. Itu semua harus dibenahi dan ditata kembali.

"Sebenarnya pasar tersebut tetap dibiarkan sebagai pasar tradisional. Kalaupun ingin mengubah, hendaknya tidak dalam wajah baru. Biarkanlan wajah atau bentuk pasar seperti semula," tegasnya.

Berbagai kritikan atau masukan yang datang dari kalangan LSM memang semestinya diterima kebesaran jiwa. Menurut Kepala Bappeda, pembangunan pasar tetap dimaknai sebagai perubahan bangunan. Setiap perubahah pasti akan menimbulkan dampak. Karena itu, diperlukah penataan atau keberlanjutan.

Dia mengatakan, selain pasar, selama 2004 sebenarnya ada pembanguna yang cakupan sangat luas dan perpaduan pusat dengan daerah. Antara lain pembangunan jalan tol, peningkatan jalan Solo-Boyolali serta revitalisasi Umbul Pengging, Kecamatan Banyudono. Ketiga sektor pembangunan itu kini terus berjalan dan memerlukan waktu lama. (Suti Harjoyo-42s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA