logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 27 Desember 2005 SALA
Line

Di Boyolali, Ribuan Pohon Tumbang

BOYOLALI - Delapan belas rumah roboh dan ribuan pohon mangga tumbang menyusul hujan es disertai angin ribut yang terjadi Minggu dan Senin (25-26/12). Bencana alam itu terjadi di Desa Miri dan Juruk, Kecamatan Mojosongo, serta Desa Bendan, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Kerugian diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.

Hujan deras yang berlangsung Minggu (25/12) pukul 15.30 itu, menurut warga, berlangsung secara tiba-tiba dan disertai gumpalan air seperti es. Warga menyebutnya sebagai hujan es. Dalam sekejap, hujan es itu disertai angin topan yang kencang hingga menyambar rumah penduduk.

"Kami sempat panik dan berteriak meminta tolong," kata Ponimin (39), warga Dukuh Jelek, Desa Jurug.

Akibat hujan yang disertai es itu, rumah Wirejo Sugiyem (55) warga Dukuh Jelek, roboh dan rata dengan tanah. Selain itu, rumah Santosa (36) warga Dukuh Selorejo, Desa Kemiri yang terbuat dari papan, hancur berantakan dan rata dengan tanah. "Saat hujan deras disertai angin kencang, saya sedang jagong di rumah salah seorang tetangga, sehingga terhindar dari reruntuhan rumah," tutur Wirerejo.

Menurut Ponimin, hujan es yang disertai angin menjadikan warga panik dan kebingungan. Apalagi di desanya sedang ada orang mantu, sehingga suasananya histeris. Ketika angin berputar-putar di seputar desanya, warga yang sedang berkumpul berlarian ke masjid dan tempat perlindungan lainnya yang dianggap aman. Tidak sedikit ibu-ibu yang berteriak minta tolong mencari anaknya yang masih kecil. "Suasana waktu itu benar-benar mencekam," ujar Ponimin.

Pohon Mangga

Selain menghancurkan rumah, hujan es disertai angin kencang juga menumbangkan ribuan pohon mangga. Sebagian besar pohon tersebut masih produktif dan sudah waktunya dipanen. Karena diterjang bencana, maka petani tidak bisa panen.

Sekdes Kemiri Suwandi mengatakan, setiap satu batang biasanya bisa berbuah 30-30 mangga. Dalam kondisi baik dan tidak diterjang hujan, satu buah mangga berharga Rp 1.250. Setelah dihantam hujan, mangga tidak laku. "Kalaupun laku, hanya dihargai Rp 250 per buah. Tahun ini petani tidak bisa panen," kata dia yang memiliki kebun mangga seluas 7.000 meter persegi.

Berkait dengan bencana tersebut, Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbang Linmas) Drs Albert Gintaryo bersama Kabag Kesra Drs Dadi Waluyo MM dan Kabag TU Dinas Kesehatan dan Sosial (DKS) Dra Sarmini serta beberapa staf, turun ke lapangan memberi bantuan. Untuk rumah yang dikategorikan roboh atau rata dengan tanah mendapat bantuan Rp 2 juta ditambah mi instan, gula, beras dan lain-lain. Sementara rumah dalam kondisi rusak parah Rp 1 juta dan rusak ringan Rp 500.000.

Menurut Gintaryo, dari 18 rumah yang terkena bencana alam, dua di antaranya dinyatakan roboh, delapan rusak parah, dan delapan lainnya rusak ringan. (shj-36d)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA