| Selasa, 27 Desember 2005 | SALA |
"Untung Warga Biasa di Emperan""SEPERTI bencana tsunami saja rasanya. Hujan turun deras sekali dan angin menderu-deru yang berputar datang dua kali dan merobohkan banyak pohon. Ternyata yang terjadi bukan tsunami tapi angin celeret tahun (angin topan-Red) mengamuk," begitu ungkapan lugu seorang warga Desa Suruh Kecamatan Tasikmadu Karanganyar, Sukadi (70 tahun). Tentunya hal itu tidaklah benar sebab Desa Suruh tidaklah berdekatan dengan laut sehingga hampir mustahil tsunami melanda kawasan itu. Namun bagi kakek itu, bencana yang menimpa desanya itu sempat dikhawatirkan sedasyat musibah yang setahun lalu memporakporandakan Tanah Rencong tersebut. Saat angin ribut berhembus, Sukadi mengaku menahan napas lantaran menyaksikan genteng beberapa rumah tersingkap dan pohon-pohon besar bertumbangan. Kejadian yang hanya berlangsung sepersekian menit itu juga menjebolkan dinding beberapa rumah di perkampungan itu. Setelah itu, listrik padam hingga malam datang menjelang. Di antara kegelapan, warga mencoba bahu-membahu memberikan pertolongan pada mereka yang rumahnya roboh. Dengan perlengkapan seadanya mereka dirikan lagi rumah bambu milik Ngadi di RT 8 RW 6 yang nyaris terangkat angin. Namun lantaran tingginya kerusakan dan terbatasnya tenaga yang ada, warga memutuskan melanjutkan pembenahan setelah pagi tiba. Untunglah, keesokan harinya dua peleton anggota TNI dan dua peleton Samapta Polres Karanganyar diterjunkan untuk membantu masyarakat. Kendati merusakkan puluhan rumah maupun kandang ayam, namun musibah itu masih membuat warga bersyukur di antara rasa prihatin. Pasalnya, tidak ada di antara mereka yang mengalami luka-luka atau meninggal dunia akibat kejadian itu. Hal itu disebabkan kebiasaan warga yang memilih berada di emper (teras-red) rumah tatkala hujan deras disertai angin terjadi. "Untungnya, warga di sini terbiasa memilih berada di emperan rumah daripada di dalam. Coba kalau sedang tidur di kamar, saya mungkin sudah tertimpa atap yang roboh," ujar Sunardi, warga RT 6 RW 6 Dusun Kebonagung Desa Suruh Kecamatan Tasikmadu, kemarin. Hal senada diungkapkan Kepala Dusun Pakis, Ngadiyo. Menurutnya, saat hujan lebat turun warga justru keluar rumah sehingga saat angin topan terjadi, dengan cepat mereka mencari tempat yang aman. Ngadiyo sendiri tidak menjelaskan secara rinci mengapa kebiasaan itu dilakukan warganya. (Evie Kusnindya -42) |