logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 27 Desember 2005 PANTURA
Line

Pesisiran

Slogan dan Kawasan Pendidikan Bahari

Oleh: Waskitho AS

SIAPA pun yang mengenal akrab Kota Tegal, tentu paham keberadaannya sebagai kota bahari. Meskipun di sana terkenal juga sebagai daerah penghasil mesin, barang-barang dari besi, shuttlecock dan bahkan sudah memiliki universitas, predikat sebagai daerah yang identik dengan kapal dan hasil laut hingga kini tidak bisa ditawar.

Namun ketika terbetik kabar Tegal akan dijadikan kota pelajar, tampaknya publik perlu untuk dipahamkan.

Jika tidak, boleh jadi mereka akan bereaksi begitu jamak. Paling tidak bertanya, apa tolok ukurnya sehingga ide tersebut muncul ke permukaan.

Sayang sekali, belum sempat kita bertepuk tangan apalagi angkat jari tanda interupsi, nasib wacana yang begitu segar itu tiba-tiba saja lenyap tertelan bumi.

Kabar yang beredar sebagai alasan lenyapnya ide itu sementara adalah karena Tegal sudah telanjur terkenal dan identik sebagai kota bahari sebagaimana slogan "Tegal Kota Bahari".

Artinya, Tegal mungkin kurang siap dan belum saatnya disebut kota pelajar.

Jika alasan itu untuk mencegah keinginan agar Tegal juga bisa disebut kota pelajar, beberapa kesan pun bermunculan.

Pertama, slogan kota bahari mendadak dikesankan sakral dan otoriter. Siapa pun yang ingin dan akan mengganti slogan itu mendadak ide-idenya tidak laku di pasaran.

Kedua, jika memang wacana itu dapat menjadi keputusan, kerepotan psikologis akan bermunculan juga.

Barangkali sebagai pertimbangan karena sebagai daerah penghasil produk bahari, dalam waktu tertentu tidak hanya harus mampu mengubah pola pikir masyarakatnya dari konservatif ke akademis (ilmiah dan rasional) tetapi juga harus mampu mengubah posisi geografis ekonomis ke arah daerah yang bercirikan dan berorientasi bisnis pendidikan.

Bagaimanapun, kondisi daerah secara historis dan realistis, keberadaannya sangat berperan melahirkan suatu image termasuk di dalamnya menentukan slogan yang pas di daerah itu.

Sebaliknya, hal yang tidak mungkin atau paling tidak sangatlah sulit, jika kondisi alam daerah tersebut harus mengikuti makna dan penggagas slogan yang lahir belakangan.

Bagaimanapun slogan kota bahari sementara ini tidak bisa ditawar, direformasi, apalagi dipaksa ke arah keinginan dan kondisi tertentu. Slogan memang membelenggu tetapi pada hakikatnya menjadi benteng ciri khas suatu daerah.

Toh, bukan berarti keeksklusifan Tegal tidak memberikan kontribusi inspirasi kepada daerah lain. Jika slogan kota bahari mempersulit wacana berpikir untuk mengubah ciri khas, toh tidak selamanya suatu slogan bernasib seperti kota bahari.

Inspirasi

Slogan justru bisa memberikan inspirasi dan motivasi. Kabupaten Batang misalnya dengan slogan "Batang Berkembang" layak juga menjadi kota pelajar. Kabupaten dan Kota Pekalongan apalagi, dengan slogannya sebagai kota batik dan kota santri yang identik dengan materi pendidikan pun layak untuk disejajarkan dengan daerah seperti Yogyakarta.

Jika kita jalan-jalan di seputar kompleks Dracik Batang, di sana orang mengenal daerah itu dengan nama Kampus. Sebab, di sanalah terdapat kompleks pendidikan terpadu dari SD hingga SMA/SMK. Kabarnya, Universitas Batang pun sebentar lagi lahir. Batang tampaknya mulai menggeliat seiring dengan adanya otonomi daerah dan kebutuhan akan tenaga ahli untuk mengolah alamnya sendiri.

Hal itu yang boleh jadi menjadi latar belakang mengapa Batang harus memiliki perguruan tinggi. Semangat slogan "Batang Berkembang" kadang mengilhami sesuatu pikiran untuk maju.

Jika Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, dan Batang ingin sama-sama disebut kawasan kota pelajar, hal yang perlu menjadi titik awal barangkali adanya kesamaan geografis, sumber alam, dan tekad bersama untuk mengolah sumber alam melalui jalur pendidikan.

Adanya ide untuk menyatukan perguruan tinggi di sepanjang pantura barangkali patut dijadikan pertimbangan.

Pantura sebagai daerah yang tidak hanya kental akan hasil laut tetapi juga kawasan pendidikan bahari, boleh jadi tidak hanya sekadar mimpi pada siang hari. (52j)

- Penulis adalah praktisi di Komunitas Pena Batang.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA