logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 27 Desember 2005 OLAHRAGA
Line

Honor Wasit Rp 5 Juta hingga Rp 7,5 Juta

  • Menelan Dana Rp 7 Miliar Semusim

JAKARTA- Keseriusan Badan Liga Indonesia (BLI) dalam mengelola kompetisi Divisi Utama dan Divisi I tampaknya tidak main-main. Dalam upayanya menggelar kompetisi sepak bola yang baik dan profesional, wadah otonom yang dibentuk oleh PSSI sebagai pelaksana Liga Indonesia itu melakukan berbagai inovasi, di antaranya dengan memberikan tunjangan memadai bagi para wasit. Untuk korps pengadil di lapangan hijau itu, BLI mengalokasikan dana sebesar Rp 7 miliar.

Jumlah dana yang terbilang besar itu hanya untuk memenuhi gaji, honor dan uang transportasi bagi para wasit yang ditugaskan memimpin rangkaian pertandingan Divisi Utama Liga Indonesia 2006, yang digelar mulai 14 Januari, tidak termasuk untuk Divisi I, yang diputar mulai pertengahan Februari.

Peningkatan kesejahteraan para wasit ini dilakukan oleh BLI dalam upaya menciptakan kompetisi yang bersih.

Maklum, wasit kerap dituding sebagai biang kerok rusaknya sebuah pertandingan. Dengan standardisasi profesional itu, para wasit diharapkan tidak terpengaruh oleh intervensi dari luar, termasuk juga iming-iming ''bonus'' dari tim tuan rumah.

Menurut Manajer Kompetisi BLI, Djoko Driyono, Minggu (25/12) di Cilegon, kisaran dana Rp 7 miliar itu terakumulasi dari pemberian gaji bagi seluruh wasit yang perbulannya akan menerima Rp 2 juta. Setiap kali bertugas, para wasit tengah akan menerima honor antara Rp 5 hingga 7,5 juta, di luar uang transportasi ke daerah tujuan.

Tidak mengherankan jika nantinya rata-rata wasit bisa menerima uang bulanan Rp 20 juta, dengan perhitungan dia bisa memimpin empat kali dalam satu bulan. Sementara itu, honor antara Rp 5 sampai Rp 7,5 juta yang diterima seorang wasit akan ditentukan dari kinerjanya saat memimpin pertandingan. Untuk setiap kali bertugas seorang wasit minimal akan menerima Rp 5 juta, dan maksimal Rp 7,5 juta.

"Nantinya akan ada semacam lembaga yang mengawasi dan mengevaluasi kinerja wast dalam setiap pertandingan," ujar Djoko Driyono. Tim pengawas dan evaluasi wasit ini beranggotakan beberapa unsur, termasuk wakil dari komisi wasit dan BLI sendiri.

40 Wasit Tengah

Seluruhnya ada 378 pertandingan di kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia 2006, dan setiap wasit maksimal ditugaskan empat kali dalam satu bulan. Menurut Djoko Driyono, ada 40 wasit yang akan ditugaskan untuk memimpin seluruh pertandingan Divisi Utama.

"Jumlah wasit inti sendiri sebenarnya hanya 25 orang, tetapi kita harus mempersiapkan lebih dari itu sebagai cadangan jika ada wasit inti yang perfomance-nya kurang baik," jelas Djoko Driyono.

Ke-40 wasit tengah (utama) yang akan ditugaskan memimpin pertandingan pada 3-5 Januari mendatang akan dikumpulkan untuk diberikan pembekalan. Setelah para wasit, BLI juga akan memberi pembekalan yang sama terhadap perwakilan panitia pelaksana (panpel) pertandingan ke-28 tim peserta kompetisi Divisi Utama itu, pada 6 Januari, juga di Jakarta.

Berbagai inovasi yang dilakukan BLI ini tidak terlepas dari adanya kemitraan yang sudah terjalin dengan beberapa sponsor kompetisi, terutama perusahaan rokok PT Djarum Kudus.

Perusahaan rokok yang berpusat di Kudus, Jateng, itu bahkan meningkatkan dana kompensasinya pada musim kedua ini. Jika tahun lalu Djarum hanya mengucurkan dana sebesar Rp 21,5 miliar, untuk musim kompetisi 2006 ini mereka menggelontorkan dana sebesar Rp 35 miliar.

"Itu hanya untuk kompensasi sponsor, tidak termasuk dana promosi dan publikasi yang ditanggung oleh Djarum," kata Handojo, salah satu pimpinan teras PT Djarum.

Disamping dari PT Djarum, BLI juga masih menerima kucuran dana dari Grup Bakrie, yang dimiliki oleh keluarga Nirwan Dermawan Bakrie, Ketua BLI sendiri.

Dengan adaya dukungan dana dari Djarum dan Grup Bakrie itu, BLI cukup yakin bisa memenuhi komitmennya pada klub untuk memberikan subsidi tepat waktu. Subsidi yang diberikan pada 28 klub peserta Divisi Utama sendiri jumlahnya Rp 17 miliar, dengan hitungan setiap klub menerima Rp 600 juta yang akan diberikan dalam empat tahap.

Pertama, satu minggu setelah kick-off, satu minggu setelah putaran pertama selesai, satu minggu setelah putaran kedua selesai, dan satu minggu setelah kompetisi berakhir. ( wgm-40)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA