logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 27 Desember 2005 OLAHRAGA
Line

Wahyu Wahab: Jangan Lupakan Sepak Bola Aceh

BENCANA gelombang pasang (tsunami) Nangroe Aceh Darussalam (NAD) telah setahun berlalu. Tragedi yang terjadi Minggu, 26 Desember 2004 itu telah meluluhlantakkan bangunan infrastruktur di Serambi Mekah. Ratusan ribu jiwa melayang. Dalam 12 bulan berjalan, Pemerintah Indonesia dan lembaga-lembaga internasional melakukan rehabilitasi untuk "menghidupkan" kembali Aceh. Bagaimana nasib persepakbolaan Aceh setelah setahun nyaris tak terdengar?

Pemain Persijap Jepara asal Aceh, Wahyu Abdul Wahab memberikan kesaksian kepada Suara Merdeka, Senin (26/12).

Di keluarganya, gelandang serang kelahiran Banda Aceh 2 April 1976 itu adalah salah satu korban selamat. Abdul Wahab, ayahnya yang memberi spirit dalam karier bolanya meninggal dalam tragedi itu. Nurul Fadla (13), adiknya yang bungsu, tak ada kabarnya hingga sekarang. Dua adiknya yang lain kini menetap di Aceh. Di Jepara, Wahyu tinggal bersama Nurbaya (45), ibu kandungnya yang selamat, juga bersama istrinya di sebuah rumah kontrakan di Kelurahan Panggang, sekitar 900 meter arah utara Stadion Kamal Djunaidi.

Bencana menghancurkan rumahnya yang terletak di Desa Bitae, Kecamatan Jayabaru, Banda Aceh, sekitar 2 km arah selatan Masjid Baiturrahman yang masih berdiri megah itu. Wahyu selamat dari bencana karena lari ke gunung di kawasan Mata Le, saat gulungan ombak laut di kejauhan mengejarnya. Bersama rekan-rekanya, ketika itu ia hendak latihan di sebuah lapangan di daerah Meulaboh.

Saat terjadi bencana, status Wahyu adalah pemain Persiraja, klub yang dibelanya sejak 1998. Sepekan setelah bencana, ia dikontrak Petrokimia Putra. "Saya meninggalkan Aceh dalam duka waktu itu. Termasuk duka dunia sepak bolanya," tuturnya.

Striker Persiraja, Irwansyah dan kiper M Basir meninggal diterpa tsunami. Stadion HD Murthala, home base Persiraja tertimbun pasir laut dan ikut "mati". Stadion berkapasitas 12.000 penonton yang merupakan hibah dari Murthala, tokoh sepak bola setempat, pada 1975 tak digunakan lagi hingga saat ini. Pun demikian dengan stadion-stadion lain yang tak lagi layak untuk bermain bola.

Kerusakan

Pada Juni 2005, Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) datang ke Tanah Rencong untuk menginventarisir kerusakan infrastruktur sepak bola. Pada 24 November lalu mengucurkan sebesar Rp 4,6 miliar untuk merehabilitasi stadion HD Murthala. Demikian juga stadion di Sigli, Kabupaten Pidie (Rp 1,19 miliar), Stadion Julok Kabupaten Aceh Timur (Rp 900 juta), dan Stadion Samalang Kabupaten Bireuen (Rp 1,13 miliar). Tsunami membuat 40 lapangan sepak bola rusak.

Pada 14 Desember lalu, Uhr Janitti, Vice Presiden FIFA datang ke Aceh bersama David Borca, Direktur FIFA untuk Asia dan Oceania, serta Windsor John, perwakilan FIFA di Asia Tenggara datang ke Aceh dengan membawa bantuan 10 ribu pasang sepatu bola. FIFA berharap sepak bola Aceh bisa kembali terangkat.

Beberapa klub peserta Divisi III Nasional masih bisa bernafas karena tak sedemikian parah tsunami menghantam markasnya, seperti Persal Aceh Selatan, Persada Aceh Barat Daya, dan Persas Sabang. Persabar Aceh Barat (Meulaboh) adalah klub Divisi III yang terparah. Termasuk PSAP Pidie (Divisi II Nasional) dan PSLS Lhokseumawe dan PSAB Aceh Besar.

Beberapa klub Divisi III Nasional dan Divisi II itu masih bisa berkompetisi pada musim 2005. Berbeda dengan tiga klub Divisi I yang terpaksa absen selama kompetisi 2005. Tiga klub itu adalah Persiraja Banda Aceh, PSSB Bireuen, dan PSBL Langsa.

Orang Aceh, katanya, sangat menantikan Persiraja sebagai salah satu tim kebanggaan NAD segera bangkit dan hidup kembali, sebagaimana PSSB dan PSBL.Wahyu berharap, PSSI melalui tangannya di Aceh bisa ikut membantu menghidupkan persiapan Persiraja dan geliat bola di Aceh. "Sepak bola Aceh toh juga bagian dari sepak bola kita," katanya. (Muhammadun Sanomae-40)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA