logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 27 Desember 2005 WACANA
Line

Surat Pembaca

Tasbih

Umat Islam ketika berzikir, sebagaimana yang dilakukan Nabi Muhammad SAW, adalah pertama bacaan tasbih, subhanallah, lalu bacaan takhmid, alhamdulillah, kemudian bacaan tahlil, la ilahaillallah, dan akhirnya takbir, Allahu akbar. Karena tasbih selalu dibaca kali pertama atau awal zikir, maka ketika ada alat bantu berupa untaian manik-manik, orang lantas menyebut benda itu tasbih juga.

Umumnya biji tasbih berjumlah 100, walau ada juga yang 33. Ini sesuai dengan sunah rasul yang menyebutkan, ketika berzikir setelah menjalankan shalat cukup 33 kali tasbih, 33 kali takhmid, 33 kali takbir, dan l kali tahlil hingga jumlahnya 100.

Tasbih tampaknya bukanlah ciptaan umat Islam. Karena sebelum Nabi lahir, untaian manik-manik bulat ini sudah dikenal. Umat Buddha menggunakan untaian biji-bijian yang berjumlah 108 sebagai alat bantu untuk memusatkan perhatian dalam meditasi. Biji-biji beruntai itu digunakan untuk menghitung jumlah mantera dan doa yang mereka lafalkan ketika bermeditasi.

Mengenai jumlahnya 108, kalangan Mahayana menjelaskan hal itu sama dengan banyaknya noda (klesa atau kilesa) yang muncul dalam batin manusia. Jika dalam meditasi noda itu muncul, harus dihancurkan dengan melafalkan pujian terhadap Amitabha Buddha.

Umat Katolik juga mengenal benda sejenis yang disebut rosario. Jumlah bijinya 59, dan digunakan dalam Doa Rosario, penghormatan kepada Maria. Jadi dari bermacam agama yang berbeda tersebut, ternyata punya kesamaan benda sebagai alat bantu melakukan ibadah atau ritualnya.

Boleh jadi biji tasbih merupakan simbol perdamaian dan kerukunan antarumat beragama atau sebagai indzar bahwa antarumat sepantasnya membina sikap toleransi yang kokoh agar terhindar dari pertikaian yang kadang sering disulut oleh provokator yang tidak bertanggung jawab.

M Fahrudin Hidayat
Jl.Raden Patah 2 Bawang, Batang

***

Haji Dua Kali

Tahun Hijriyah umurnya lebih pendek 11 s.d 12 hari dibanding Tahun Masehi. Akibatnya kalender 'H' berjalan lebih cepat daripada 'M'.

Coba amati di tahun 2006 umat Islam menunaikan ibadah haji dan merayakan Idul Adha dua kali.

Tepatnya tanggal 9-10 Zulhijah (tahun 1426 dan 1427 H) bertepatan pada 9-10 Januari dan 30-31 Desember (2006 M). Ini berputar setiap 4 windu Masehi atau 33 tahun Hijriyah. Memang berbeda dengan penanggalan lain yang selalu menempel/ beriringan dengan tarikh M . Khusus almanak 'H' dan juga almanak Jawa sama sekali tak dapat dicampur/digabung dengan M .

Kalau ada TV, radio maupun koran yang menulis Liputan Lebaran 2004, Kurban 2005, Haji 2006 atau Garebeg Mulud 2007 kiranya patut diluruskan. Jadi akan lebih bijaksana jika disebut Lebaran1425 H. Semoga media kita Garebeg Maulud 1428 H (Jw: 1940 Jimakir), makin cerdas,objektif dan tidak takut perubahan.

RA Mabruri
Karyawan Dindik Kab Pekalongan

***

Palawija

Dalam hal kecukupan akan kebutuhan air bagi pertumbuhannya, tanaman palawija berbeda dibanding padi. Untuk dapat tumbuh sempurna, padi memerlukan banyak air sampai menggenangi permukaan sawah dari 3-8 cm.di atas lahan yang kira-kira mencapai 200% di atas titik layu.

Titik layu adalah kandungan kelembaban air tanah minimum pada daerah perakaran tanaman untuk menunjang tanaman dapat hidup. Bagi padi dan palawija daerah perakaran ini punya tebal sekitar 20 cm.

Untuk tanaman palawija termasuk ubi-ubian hanya perlu kelembaban pada daerah perakaran sekitar 20% saja di atas titik layu atau untuk mengisi 25- 30 % pori-pori tanah.

Kandungan kelembaban yang melebihi nilai tersebut apalagi kalau mencapai titik jenuh di mana seluruh pori tanah terisi air, akan menyebabkan terjadi pembusukan akar dan kematian tanaman. Untuk menghindari kejenuhan daerah perakaran,ladang-ladang palawija dibentuk sebagai sistem lajur.

Ladang dibagi menjadi lajur-lajur selebar 2-3 m yang akan dibatasi dengan parit di antara lajur-lajur (furrow). Parit ini berkedalaman 30-50 cm atau kadang lebih dalam pada daerah yang sangat basah, untuk membuang kelebihan air agar tidak terjadi kejenuhan lahan yang mengakibatkan busuk akar.

Pada tayangan TV tentang bencana gagal panen di Yahukimo, sepintas saya (kalau tidak keliru) tidak melihat sistem lajur ini diterapkan pada ladang-ladang pertanian penduduk. Padahal Yahukimo adalah daerah yang basah.

Ada baiknya kalau pengamatan saya ini benar, Pemerintah dapat memperkenalkan cara menanam palawija tersebut, di samping pembuatan dan pemanfaatan pupuk organik agar tidak terjadi gagal panen.

Mulyanto DS
Jl Sriwijaya 118 Semarang

***

Sarjana Jalur TA

Saat ini gencar membicarakan sarjana jalur skripsi dan nonskripsi. Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS, khususnya Seni Rupa, jalur nonskripsi telah diberlakukan sejak lama. Mahasiswa akan mengakhiri studinya dengan mengerjakan/membuat karya Tugas Akhir/TA.

Persepsi yang berkembang, sarjana nonskripsi tidak bisa melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini tidak semuanya benar. Jika sarjana tersebut kemampuan intektual dan biaya ada, bisa studi lanjut.

Alumni jurusan Desain Komunikasi visual (Deskomvis) yang menjadi staf pengajar, saat ini ada yang studi lanjut ke Jerman.

Bambang Purwadi SIP
Makamhaji Rt 0/Rw 1,Kartosuro

***

Kapan Tes CPNS

Pertengahan September Ialu para pencari kerja mendapatkan angin segar dengan beredarnya kabar akan ada seleksi CPNS baik tingkat pusat maupun daerah. Tetapi hingga kini belum ada kepastian. Sudah jamak dalam seleksi selalu saja ada sejumlah orang yang lolos seleksi secara tidak wajar.

Masuk menjadi pegawai karena punya famili atau kenalan orang berpengaruh atau karena mau membayar kepada pihak tertentu.

Saya mengajak kepada para peserta yang akan mengikuti seleksi CPNS agar menjaga idealisme. Kita orang berpendidikan yang bermoral.

Jangan takut dianggap tidak keren hanya karena tidak menjadi PNS. Jangan mau diimingi-imingi oknum yang mengatakan bisa membantu menjadi PNS dengan syarat membayar sejumlah uang. Bukan soal nilai uangnya karena bagi sebagian orang, jumlah itu bukan masalah.

Namun lebih kepada soal baik-buruk, terpuji-tercela dan halal-haram. Kita bisa menilai apakah menyuap itu baik atau buruk, terpuji atau tidak, halal atau tidak. Bayangkan, jika diterima kerja lewat suap, tidak ada sedikit pun kebanggaan pada diri kita.

Selain itu penghasilan yang akan dimakan seumur hidup tersebut tidak jelas kehalalannya. Maukah menyuapi anak dengan makanan yang dibeli dari uang remang-remang. Mari tunjukkan kualitas diri bersaing secara sehat. Kita adalah generasi muda yang masih percaya kepada Tuhan.

Tri Widayat
Kebumen Rt 3/Rw 5 Pringsurat, Temanggung

***

Wingko Borobudur

Tanggal 11 Desember 2005 saya bersama rombongan dari Comal, Pemalang berekreasi ke Candi Borobudur. Ketika pulang, di parkiran banyak pedagang menawarkan aneka macam jajanan/suvenir dan saya membeli wingko babat yang dikemas dalam tas kecil produksi Bapak Muliyanto.

Tapi betapa kecewanya, setelah sampai di rumah ternyata wingko tersebut telah berjamur semua. Selain kecewa saya juga dibuat malu karena sebagian sudah saya berikan ke teman yang minta oleh-oleh. Saya tidak mempermasalah-kan uang yang sudah keluarkan, tapi bagaimana tanggung jawab para pedagang bila sampai ada yang keracunan jajanan tersebut.

Bagi para pembaca, harap berhati-hati dan waspada bila membeli makanan. Bagi pengelola wisata Borobudur, tolong tertibkan para pedagang demi kenyamanan pengunjung. Semoga masukan ini dapat menambah dan meningkatkan kenyamanan berekreasi ke Candi Borobudur.

lndah Wigati
Losari Loboyo 18, Pemalang


HexWeb XT DEMO from HexMac International

Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA