| Selasa, 27 Desember 2005 | WACANA |
tajuk rencanaPeradaban Menjaga Keberadaan- Pesan Natal yang disampaikan Pemimpin Umat Katolik Indonesia Kardinal Yulius Darmaatmadja kali ini amat tajam. Kardinal menunjuk keadaban yang ditampilkan selama ini kurang layak disebut keadaban. Sebab, peradaban itu bernada positif sedangkan yang ditampilkan adalah kebiasaan buruk. Mungkin lebih tepat disebut sebagai kebiadaban. Sungguh sebuah pesan yang amat tajam, langsung menohok ke inti persoalan, dan tidak menggunakan bahasa berbelit untuk menunjuk sesuatu. Sungguh sebuah pesan yang langsung mengena karena itulah yang sebenarnya terjadi di masyarakat sekarang ini. - Pesan Natal yang disampaikan dalam bahasa yang lugas seperti itu mengandung beberapa makna. Mungkin, sudah terlalu lama peringatan, imbauan, dan juga permintaan disampaikan dalam bahasa yang halus. Namun, dengan bahasa seperti itu tampaknya juga belum mampu mengubah keadaan. Maka, jika kali ini Kardinal memilih kalimat yang tajam, barangkali situasi masih jauh dari kebaikan yang kita inginkan terjadi. Sebagai pemimpin umat beragama, pastilah dia amat peka terhadap persoalan-persoalan sosial kemanusiaan. Dan, manakala perilaku kita semakin menjauh dari hakikat adalah menjadi tugas beliau untuk mengingatkannya. - Kardinal pun mengambil contoh-contoh yang berkembang di masyarakat, terutama menyangkut hal-hal yang memang telah dikecam oleh masyarakat sendiri. Misalnya menyangkut perilaku korupsi dari sebagian besar elite atau penyelenggara negara. Korupsi terus berlangsung meskipun di sekitar lingkungan banyak sekali tetangga yang berada dalam kemiskinan dan kelaparan. Bahkan, bantuan untuk penanggulangan kemiskinan tidak bisa dipertanggungjawabkan baik dari segi finansial maupun jumlah barangnya. Korupsi terus berlangsung, walaupun untuk hal-hal yang sama sekali tidak patut untuk dikorupsi. - Mereka yang mengambil bukan haknya menunjukkan, bukan mereka tidak tahu batas haknya tetapi pura-pura tidak tahu. Bahkan, merancang persekongkolan untuk memperbesar pengambil yang bukan haknya itu. Menjadi pertanyaan, apakah model keadaban yang demikian itu yang disebut sebagai peradaban? Lalu Kardinal pun menegaskan, hal seperti itu bukan lagi sebagai keadaban melainkan kebiadaban. Istilah kebiadaban merupakan perilaku paling buruk karena sangat jauh dari penggunaan akal sehat dan hati nurani. Agama-agama mengajarkan, perbuatan yang menjauh dari akal sehat dan hati nurani bukanlah perbuatan manusia. - Keadaban seperti itu seharusnya memang dikoreksi karena membiarkannya terus berada dalam kehidupan akan merendahkan martabat keberadaan. Dalam kehidupan di masyarakat sering pula kita mengalami ironi-ironi. Lingkungan sering memuja orang kaya karena kedudukan tertentu dalam jabatan. Sementara itu, masyarakat juga tahu bahwa si kaya tersebut jelas tidak hanya hidup dari gajinya saja. Masyarakat sering senang melihat pejabat kaya tetapi tidak peduli bagaimana pejabat itu memupuk kekayaan. Bahkan, sering kali masyarakat lingkungannya bangga bahwa si A tetangganya itu bekerja di ''tempat basah''. - Tata nilai menjadi jungkir balik. Orang yang bekerja keras dan tetap miskin, kurang dihargai. Namun, pejabat kaya dan suka berderma karena korupsi menjadi idola. Jika pun sudah divonis pengadilan dan dinyatakan bersalah, masih bisa tersenyum lebar seolah sedang berbahagia. Tidak tampak perasaan bersalah karena telah mengambil yang bukan haknya. Keadaban seperti itulah yang harus dikoreksi atau ''direvolusi'' agar lahir keadaban baru yang lebih memancarkan nilai-nilai kemanusiaan yang penuh dengan harkat dan bermartabat. Nilai-nilai baru itu harus dibangun sekarang agar keberadaan senantiasa terjaga. |