| Selasa, 27 Desember 2005 | NASIONAL |
Aneka WartaPabrik Kerupuk TerbakarSEMARANG - Sebuah pabrik kerupuk yang berlokasi di Kampung Duwet, Kelurahan Bringin, Ngaliyan, semalam terbakar. Api meludeskan paling tidak empat ruangan oven yang terletak di bagian belakang pabrik, yang berlokasi di tepi barat Jl Raya Semarang-Boja itu (sekitar 100 meter arah utara LP Kedungpane). Kebakaran tak menimbulkan korban jiwa, meski mendatangkan kerugian lebih kurang belasan juta rupiah. Menurut saksi, Mukarom (44), api muncul kali pertama sekitar pukul 19.30. Saat itu sejumlah pekerja hendak mencoba batu bara sebagai alternatif bahan bakar. Mereka biasanya menggunakan kompor listrik. Tanpa diketahui secara persis penyebabnya, tiba-tiba nyala api dari tumpukan batu bara membesar tak terkendali dan merambat ke beberapa ruangan. Mukarom yang bertugas sebagai pengawas di pabrik itu berusaha mematikan api dengan tabung pemadam, tapi tak berhasil. Sedikitnya lima unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan ke lokasi. Lebih dari dua jam kemudian api baru bisa dikendalikan.(G3-60v) Saksi Akui Penyimpangan DAU JAKARTA- Hasil audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) menunjukkan ada penyimpangan Dana Abadi Umat (DAU) dan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) sebesar 979,8 ribu dolar AS dan Rp 94 miliar. Demikian kesaksian yang disampaikan Auditor BPKP Arman Sahri Harahap dalam sidang terdakwa Taufiq Kamil di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Jalan Gajah Mada, Senin (26/12). Arman mengaku pernah ditugaskan Reskrim Mabes Polri untuk mengaudit BPIH dan DAU pada 2005. "Iya ada penyimpangan. Pada pokoknya ada pengeluaran dana-dana BPIH dan DAU di luar komponen," kata Arman. (dtc-60) Akses Sulit, Program KB Mundur SEMARANG - Sekretaris Pengurus Daerah Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Tengah Soejatno Pedro HD mengatakan, gerakan KB di Indonesia telah mengalami kemunduran. Langkah mundur ini ditandai dengan semakin sulitnya akses terhadap informasi dan pelayanan KB, terutama di tingkat kabupaten/kota. ''Apabila kondisi itu tidak segera mendapat perhatian, akan menambah permasalahan dalam pembangunan di bidang kependudukan,'' kata dia, Senin (26/12), dalam keterangan pers terkait Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-41 PKBI pada 23 Desember. Menurut Pedro, permasalahan kependudukan itu misalnya, keluarga prasejahtera dan keluarga sejahtera 1 (penduduk miskin) akan meningkat. Di sisi lain, baik peserta KB baru maupun peserta KB aktif akan menurun. Akhirnya, akan timbul percepatan pertambahan penduduk di Jawa Tengah yang saat ini sudah mencapai 34 juta jiwa. Karena itu, memperhatikan persoalan tersebut, Pengurus Daerah PKBI Jateng mengimbau agar pemkab/pemkot dapat lebih memberikan perhatian kepada pelaksanaan KB di era desentralisasi ini. Adapun Pemprov diminta selalu mendorong para bupati/wali kota agar lebih memperhatikan program KB. Ketua Umum Pengurus Nasional PKBI Prof Dr Prijono Tjiptoherijanto mengemukakan, di era keterbukakan informasi globalisasi seperti sekarang ini, peranan keluarga justru sangat diperlukan untuk memberi jawaban terhadap berbagai masalah yang berkembang. ''Keluarga menjadi pusat internalisasi nilai-nilai ataupun norma-norma yang bersumber dari akar budaya dan keyakinan agama,'' jelas dia dalam keterangan tertulis yang diterima Suara Merdeka. Lebih lanjut dia mengungkapkan, beberapa kegiatan yang dilaksanakan PKBI saat ini menyangkut isu kesehatan reproduksi, HIV/AIDS, narkoba, ketimpangan gender, kekerasan rumah tangga, dan kegiatan lain.(G17-29v) |