| Selasa, 27 Desember 2005 | NASIONAL |
Zikir Bersama Peringati Tsunami
ACEH - Peringatan satu tahun peristiwa gempa bumi dan gelombang tsunami yang meluluhlantakkan Kota Banda Aceh dan Nias diwarnai dengan mengheningkan cipta yang dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Masjid Ulee Lheu, Banda Aceh. Wartawan Suara Merdeka Rukardi dari Aceh melaporkan acara mengheningkan cipta dan doa bersama ini diikuti ratusan warga Banda Aceh dan puluhan tamu undangan yang memadati halaman masjid. Doa ini dipanjatkan untuk ratusan ribu warga Aceh yang menjadi korban gelombang tsunami pada 26 Desember 2004. "Marilah kita semua mengheningkan cipta, semoga arwah mereka diterima di sisi Allah SWT," kata Presiden SBY. Sekitar 500 warga dan tamu undangan pun ikut berdoa secara khidmat. Puncak acara peringatan satu tahun tsunami, selain dilakukan di Masjid Ulee Lheu sebagai satu-satunya bangunan yang selamat di bibir pantai Banda Aceh, juga di beberapa tempat lainnya. Di masjid Baiturrahman, masjid terbesar di Banda Aceh, ribuan orang mengikuti zikir bersama yang dipimpin oleh Ustad Arifin Ilham. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta semua pihak membantu masyarakat di Aceh dan Nias yang menjadi korban gempa dan tsunami. Mereka terutama anak-anak yang masih punya masa depan panjang. Menurutnya, anak-anak yatim piatu korban tsunami hanya membutuhkan dua hal. Pertama kasih sayang. Kedua, masa depan mereka. Uluran tangan itu dapat berupa pengetahuan dan keterampilan, agar mereka mempunyai hari esok yang baik, dan terpenting, agar mereka terus beribadah kepada Allah SWT.Dalam kesempatan itu, Presiden memberi penghargaan kepada kepala Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi(BRR), Kuntoro Mangkusubroto dan stafnya atas kerja keras yang telah dilakukan untuk membangun kembali Aceh dan Nias pascatsunami. Dalam kondisi seperti sekarang ini, Aceh butuh bantuan ekonomi dan penyediaan lapangan kerja.Menurut Yudhoyono, salah satu dampak penting dari tsunami adalah terciptanya kebersamaan dan solidaritas global. Di Indonesia, ribuan relawan berdatangan sesaat setelah tsunami terjadi dan memberi bantuan. Demikian pula bantuan yang berasal dari luar negeri. Pihak militer asing melakukan operasi kemanusiaan di bawah koordinasi TNI. Warga di seluruh penjuru dunia memberi bantuan bernilai jutaan dolar. ''Warga seluruh penjuru dunia, dari Belize hingga Ankara, dari London hingga Mexico City, dari Los Angeles sampai Teheran dan tempat-tempat lain di dunia, semuanya turun tangan memberikan bantuan,'' katanya. Seusai memberi sambutan, Presiden memencet tombol sirene sebagai tanda diberlakukannya sistem peringatan dini tsunami di NAD. Sistem tersebut memberi tahu warga akan terjadinya gelombang tsunami. Presiden juga memberi penghargaan kepada institusi, negara-negara, lembaga internasional serta warga lokal yang dinilai berjasa saat recovery maupun rekonstruksi Aceh pascabencana tsunami. Empat pemimpin dunia, di antaranya mantan Presiden AS Bill Clinton, Presiden George W Bush, PM Australia John Howard, dan Sekjen PBB Koffi Anand. Presiden George W Bush dan PM John Howard yang negerinya banyak berperan dalam mengatasi musibah tsunami di Aceh, turut 'hadir'. Kehadiran mereka dalam bentuk virtual. Mereka berpidato singkat lewat rekaman yang diputar di depan undangan. Dalam pidatonya itu, Presiden Bush menggambarkan penderitaan yang diakibatkan tsunami, di mana ribuan jiwa melayang dan seluruh perkampungan hancur disapu air laut. "Setahun kemudian kita memperingati hari yang penuh duka ini dan kita kenang tindakan penuh keberanian dan kebaikan yang membuat kita bangga," kata Bush. "Pemerintah dan rakyat Amerika dikerahkan untuk memberikan bahan-bahan bantuan yang penting bagi mereka yang terkena dampak bencana dan dunia pun bersatu dalam satu tujuan yang teramat penting ini." Bush menggambarkan betapa rakyat Amerika telah membuka pintu hati dan pundi-pundi mereka, secara pribadi menyumbangkan lebih dari 1,7 miliar dolar untuk membantu upaya pemulihan dan rekonstruksi. Ia berbicara mengenai bantuan awal yang diberikan oleh militer AS, termasuk kedatangan USS Abraham Lincoln dan USNS Mercy, yang memberikan bantuan berupa makanan pokok, obat-obatan, dan air bersih, serta upaya USAID yang berkesinambungan dalam rangka pemulihan dan rekonstruksi. Ia memuji kepemimpinan Presiden Yudhoyono serta ketegaran rakyat Indonesia. Adapun PM Howard mengungkapkan, sebanyak 1 miliar dolar Australia yang merupakan paket sumbangan individual terbesar dalam sejarah negeri itu, telah digelontorkan untuk membangun kembali daerah-daerah di Indonesia yang menjadi korban tsunami. Sementara itu sekitar 200 orang gabungan Walhi, Save Environment For Aceh (SEFA), dan Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI) menggelar acara peringatan 1 tahun bencana tsunami di Bundaran HI, Jakarta. Sebelumnya, mereka melakukan jalan kaki dari Monas dan tiba di pusat aksi pukul 09.30 WIB. Dalam aksi ini, massa menggeber aksi teatrikal menggambarkan bencana tsunami. Atraksi ini melibatkan badut-badut dan pantomim yang menyedot perhatian para pengguna jalan. Selain itu mereka membagi-bagikan stiker, pamflet, dan gantungan kunci kepada pengemudi mobil dan motor yang melintas. Massa yang berkumpul di jantung Jakarta itu juga membentangkan poster, baliho, dan spanduk yang dipegang oleh anak-anak bertuliskan: "Siaga dan hadapi bencana, hak dan kewajiban kita semua". Aksi dijaga oleh sejumlah aparat kepolisian yang mengatur lalu lintas agar tetap lancar. Dalam orasinya, Sekjen MPBI Puji Pujiono, mengajak masyarakat berpartisipasi dalam menghadapi bencana dan mendesak pemerintah proaktif melindungi warganya. "Kami mengajak semua pihak mendorong diberlakukannya UU Penanganan Bencana agar masyarakat bersiap menghadapi bencana dan pemerintah melindungi warga negara dari akibat bencana," ujarnya. Menurut Direktur Eksekutif Walhi, Chalid Muhammad, pascatragedi tsunami, Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) masih belum membuahkan prestasi gemilang. "Kebutuhan dasar pengungsi diabaikan, pendekatan mereka masih konvensional dan bukan pendekatan penanganan bencana," tuturnya.(dtc,ant-14v) | ||||