| Selasa, 27 Desember 2005 | MURIA |
Perlu Pembenahan Kawasan Atas5,1 Km Tanggul dan Tebing Sungai KritisKUDUS - Setidaknya, saat ini terdapat 5.190 meter tanggul dan tebing sungai di Kota Kretek, kondisinya rusak berat. Akibatnya, daerah yang dilewati rawan limpas terutama saat musim hujan. Tanggul dan tebing yang memerlukan pembenahan tersebut terletak di enam kecamatan. Yakni, Bae, Mejobo, Jekulo, Jati, Undaan, dan Kaliwungu. Adapun empat sungai yang melewati daerah tersebut adalah Sungai Gelis, Dawe, Piji, dan Logung. Kepala Balai Pengelolaan Sumber Daya Air (BPSDA) wilayah Sungai Serang, Lusi, Juwana (Seluna), Ir Agus Purwadi CES, mengemukakan hal itu, Senin (26/12). "Sedimentasi di sepanjang Sungai Logung yang melintas di Desa Sadang, Kecamatan Jekulo, Kudus, juga ikut memperparah kondisi yang sudah ada. Kami telah mengajukan anggaran untuk normalisasi di tempat tersebut, baik kepada Pemprov Jateng maupun pusat," tandasnya. Tanggul kritis sepanjang 25 meter di Desa Mejobo, Kecamatan Mejobo, diperkirakan menelan dana Rp 19,1 juta. Sementara itu, tebing kritis di Desa Jekulo sepanjang 450 meter diperkirakan membutuhkan anggaran Rp 2,7 miliar. "Untuk Sungai Gelis, tebing sungai yang kritis ada di dua lokasi. Yakni, di Desa Jurang, Kecamatan Gebog dan Jati Kulon, Kecamatan Jati. Adapun tanggul sungai yang kritis, hampir semuanya berada di Desa Temulus, Kecamatan Mejobo. Untuk Sungai Piji, cakupan tebing dan tanggul yang kritis terletak di tiga desa, yakni Hadipolo (Jekulo), Hadiwarno, dan Kesambi (Mejobo)." Selain di wilayah tersebut, pihaknya juga akan melakukan revitalisasi pintu pembagi air Dam Wilalung di Desa Kalirejo, Undaan. Sarana tersebut, ke depan akan lebih dioptimalkan fungsinya sebagai pengendali banjir di wilayah Kudus dan sekitarnya. Ia juga menambahkan, kondisi serupa juga terjadi di Sungai Logung, yang melintas di Desa Tanjungrejo dan Jekulo, serta Sadang (Jekulo). Untuk membenahi adanya tanggul dan tebing yang rusak berat tersebut dapat dilakukan dengan membangun pasangan bronjong ataupun batu belah. "Sementara itu untuk sedimentasi, hal itu dapat diatasi dengan penggalian di tempat tersebut," tuturnya. Satu hal lagi yang perlu dipikirkan, terkait antisipasi ancaman banjir pada saat sekarang ini juga, yakni turut menjaga kelestarian hutan di kawasan Muria. Mustahil, mengatasi persoalan banjir di Kota Kudus, tanpa mengembalikan kondisi hutan di kawasan atas (Muria). "Tentunya, selain melakukan sejumlah normalisasi, pelestarian di kawasan tersebut juga perlu mendapat perhatian yang serius dari semua pihak." (H8-50v) |