logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 27 Desember 2005 MURIA
Line

Cinta pada Tenis

USIA lima tahun, Lutfiana Aris Budiarto telah diperkenalkan pada dunia tenis lapangan. Dara kelahiran Kudus, 31 Agustus 1990 itu kini menuai hasil latihan yang dikerjakannya semenjak balita tersebut. Sebanyak 137 piala dan piagam dari olah raga yang ditekuninya tersebut berhasil dikoleksi putri tunggal pasangan Suharto-Badriah itu.

"Awalnya sempat tidak menyukai jenis olah raga ini. Selain capai, tenis juga membuat saya berpanas-panasan di lapangan. Namun lama kelamaan saya menjadi cinta pada tenis," ungkapnya ketika ditemui di kediamannya Jalan Pakis Indah Gang 2 RT 7 RW 1 Jepang Pakis Kecamatan Jati, kemarin.

Pada tahun ini, siswa kelas 2 SMU Jubilee Jakarta ini berhasil bertengger di posisi 142 International Tennis Federation (ITF) dan peringkat 1.020 World Tennis Association. Selain itu, masih berderet predikat yang disandang dara yang gemar nonton film itu. Prestasi pertamanya, berawal dari pada usia sepuluh tahun, dia berhasil menjadi peringkat tiga dalam Solo Open pada 1990.

Menonton Film

"Kalau sudah mulai bosan dengan tenis, biasanya saya menonton film di bioskop dan menghabiskan waktu pada wahana permainan yang ada di sebuah pusat perbelanjaan," ujarnya.

Rutinitasnya dalam berlatih terkadang membuat Lutfi, demikian dia biasa disapa, menjadi jenuh. Jadwal latihan dara beramput cepak ini dimulai pada pukul 04.30 hingga 21.00 setiap harinya di Ragunan Tennis Club.

"Di Ragunan kami benar-benar digodok. Saya sendiri diberi target untuk menembus peringkat 62 besar ITF," jelasnya.

Sejumlah provinsi telah menawari dara yang pernah tercatat menjadi siswa SMU I Kudus itu, untuk berlaga di PON tahun 2008. Namun, jebolan TK Pembina Gondang Manis, SD 2 Barongan, dan SMP 2 Kudus ini, tetap memilih bergabung dengan kontingen Jawa Tengah.

Pada kesempatan tersebut, dia meminta Pemkab untuk lebih memperhatikan cabang olahraga tenis. Menurutnya, diperlukan sebuah pembinaan untuk mencari bakat muda dalam bidang tenis.

"Dana yang ada janganlah hanya terkonsentrasi pada satu bidang olahraga saja. Bidang olahraga lain pun juga membutuhkan dana untuk pembinaan para atletnya," tuturnya.

Meskipun cinta dengan dunia tenis, namun dia mengaku jika suatu saat tiba waktunya untuk menggantung raket, dirinya tidak akan berkecimpung dalam dunia olahraga itu. Sebagai bekal, gadis yang mengidolakan Lindsay Davenport (petenis Amerika) dan Wynne Prakusya itu akan tetap memperhatikan pendidikan.

"Saya tidak tertarik menjadi pelatih tenis, saya akan meneruskan kuliah pada jurusan ekonomi atau Bahasa Inggris. Meskipun hingga kini masih belum mengetahui pasti kelak ingin menjadi apa," tandasnya. (Satryani Kartika Ningrum-17v)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA