logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 27 Desember 2005 SEMARANG
Line

''Pak Wali Tahu Nggak Ya''

''BANJIR lagi banjir lagi Gara-gara saluran mampet ... '' Masih ingat lagu ''Si Komo'', yang isinya menceritakan kemacetan jalan, karena boneka tersebut sedang lewat? Lagu yang memopulerkan boneka Si Komo itu cukup terkenal pada tahun 1990-an. Dengan kreatif, guru-guru SD Kalicari 01-03 menggubah syair lagu itu kaitannya dengan saluran mampet.

Ya, gara-gara gorong-gorong yang terbentang di perempatan Jl Soekarno-Hatta dengan Jl Supriyadi-Tlogosari tersumbat, gedung sekolah dasar yang lokasinya berdekatan dengan jalan tersebut selalu terkena imbasnya, apabila saluran tersumbat. Para guru menyanyikan ''Si Komo'' versi mereka, sembari membersihkan lantai ruang kelas. Mereka dengan ikhlas, bahu-membahu mengepel, dan menyerok air yang mengotori lantai kelas. Satu hal yang mereka harapkan, proses pembelajaran siswa tak terganggu.

Tapi, harapan tak sesuai kenyataan. Air setinggi satu meter masuk ke dalam ruang kelas. Akibatnya, dengan sangat terpaksa siswa diliburkan. Dan, liburan itu merupakan kedua kali dari tiga kali banjir selama sepuluh hari terakhir, Desember ini.

Libur dimanfaatkan anak-anak bermain air di halaman. Tak ada ''duka'' bagi anak-anak itu. Namun, di sela-sela libur dadakan tersebut, wajah Surya (9), salah seorang siswa kelas V SD, itu menyiratkan kekhawatiran. Menurutnya, setiap turun hujan, yang terbayang di benaknya adalah gedung sekolah tergenang air. Genangan itu, tanpa peduli, merendam buku, kertas-kertas hasil ulangan, dan soal-soal ujian. Tanpa ampun, hasil kesungguhan belajar yang mereka lakukan selama ini hilang tak berbekas.

Sebagai murid yang sepekan lagi, yakni 2 Januari 2006, bakal menempuh ujian, jelas dia kecewa berat. Setiap banjir melanda sekolah, tak ada pelajaran. Artinya, libur dadakan kembali terulang. Dan besok, entah apa bisa bersekolah atau tidak. Tergantung hujan, tergantung gorong-gorong.

Kekecewaan serupa juga diungkapkan Eko, Dimas, dan Anggi (ketiganya siswa kelas VI), serta ratusan siswa lain, yang tercatat sebagai peserta didik di SD tersebut. Setiap hujan pada malam hari, mereka cemas. Bisa bersekolahkah esok hari?

''Bagaimana mau sekolah kalau kondisinya seperti ini. Pak Wali tahu nggak ya, mas, sekolahku seperti ini?'' tanya Surya.

Semah (56), warga Tlogosari Kulon, ketika mengantar keponakannya bersekolah di SD itu meminta keseriusan pemerintah. ''SD ini merupakan sekolah terdekat dari tempat tinggal kami. Kalau harus pindah gara-gara banjir, sebenarnya kami keberatan, tapi kalau tidak dipindah bagaimana dengan pendidikan anak-anak? Setiap banjir pasti libur, padahal satu minggu lagi ujian semesteran,'' keluhnya.

Dia berharap, gembar-gembor pemerintah yang akan memajukan pendidikan bukan isapan jempol. Sebab, akan sia-sia saja kalau kaum cerdik cendikia berkoar menuntut anggaran pendidikan 20% dari APBN dan APBD, tapi tak jauh dari gedung yang mereka tempati ada sekolah yang tergenang air. (Widodo Prasetyo-44h)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA