logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 27 Desember 2005 SEMARANG
Line

PHBK Berbagi Kasih dengan Warga Tambaklorok

MINGGU pagi itu, suasana di permukiman nelayan Kelurahan Tambaklorok tenang seperti biasanya. Namun, ketenangan itu tiba-tiba terusik, ketika meluncur delapan mobil yang dikawal satu mobil polisi berjalan beriringan menuju ke lokasi Tambaklorok. Sontak, ratusan orang baik anak-anak, remaja, dan orang tua setempat berhamburan keluar menghampiri mobil-mobil itu.

Untuk menghapus rasa penasaran, sejurus kemudian, tanpa dikomando, mereka sudah membentuk barisan rapi. Akhirnya, mobil-mobil itu pun berhenti tidak jauh dari posisi mereka berdiri. Senyum mereka pun mengembang mengiringi kemunculan satu per satu penumpang mobil itu. Ya, itulah setetes kebahagiaan yang dirasakan masyarakat Tambaklorok di tengah himpitan penderitaan yang mereka alami.

Tamu-tamu itu adalah rombongan anggota Persekutuan Doa Hidup Baru dan Kudus (PHBK), yang dipimpin desainer ternama Semarang, Anne Avantie. Mereka datang untuk membagikan bingkisan berupa perlengkapan sekolah dan snack.

Memang, tak semua warga gembira menyambut kedatangan rombongan itu. Sebagian di antara mereka terkejut,karena kebanyakan anggota PHBK yang datang itu kaum waria dan gay (homo). "Wah, tibakmen banci-banci," celetuk seorang warga Tambaklorok. Menanggapi itu, para anggota yang dimaksud pun hanya membalasnya dengan senyum sembari melontarkan guyonan.

Pelindung PHBK, Anne Avantie,menuturkan, kegiatan itu wujud kesungguhan lembaganya, yang beranggotakan kaum gay dan waria. Mereka dari berbagai profesi (desainer, perias, hingga dosen) untuk beribadah, berbagi kasih, dan melayani sesama, dengan menembus ruang perbedaan.

''Tahun ini, kami sengaja tidak merayakan Natal di kota. Namun, lebih memilih aksi turun lapangan, dengan membagikan snack dan bingkisan perlengkapan sekolah di wilayah permukiman kumuh, seperti, di Tambaklorok dan TPA Jatibarang. Selain itu, kami juga membagikan selimut dan tikar bagi para gelandangan di kawasan Polder Tawang dan Kota Lama," ungkapnya.

Wujud Penuh Kasih

Anne menambahkan, dalam kegiatan itu PHBK bertujuan mengajak kaum homo dan waria yang biasanya menjajakan diri untuk berlaku santun, serta tidak takut untuk menjalankan ibadah. "Tuhan tidak melihat wujud kita dalam beribadah, tetapi kesungguhan hati kita dalam beribadah. Apa pun agama dan kepercayaan kita," tandasnya.

Ketua PHBK, Jonathan, berpendapat, kegiatan itu merupakan suka cita, karena bisa berbagi dalam keprihatinan yang tiada tara. Penderitaan mereka itu merupakan kenyataan yang harus menjadi tanggung jawab kita bersama.

Pihaknya mengakui, saat ini di masyarakat masih banyak menolak kehadiran kaum homo maupun waria di lingkungan sekitar. Padahal, sebagian mereka sedang berusaha berubah untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Bagaimanapun sikap terbuka dari masyarakat merupakan impian besar dari sebagian besar komunitas mereka. (H10-56h)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA