logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 27 Desember 2005 SEMARANG
Line

Anggaran Berkeadilan untuk PSIS dan Olahraga

Oleh: I Nengah Segara Seni

KETIKA berlangsung pembahasan rencana kegiatan anggaran RAPBD di DPRD Kota Semarang, banyak hal yang disikapi secara krtis oleh anggota legislatif. Selain mencermati anggaran yang diajukan oleh masing-masing dinas, salah satu yang sangat menarik adalah ketika menyimak usulan dalam pos olahraga. Di antaranya program pembentukan tim elite PSIS dan pembinaan cabang olahraga oleh KONI Kota.

Untuk mengikuti Kompetisi Liga Indonesia, PSIS menyodorkan usulan Rp 12 miliar untuk sekali kompetisi (periode satu tahun musim pertandingan). Sementara itu, KONI (pembinaan olahraga secara umum) tak lebih dari Rp 900 juta.

Kemudian apakah ''gambaran anggaran'' itu memberikan rasa adil bagi dunia olahraga di ibu kota Jateng tersebut? Jawabnya jelas, tidak! Mengapa? Ya, lantaran tidak banyak wakil rakyat kita yang terhormat memahami betul seluk beluk dan denyut nadi pembinaan yang dilakukan oleh klub-klub ataupun cabang-cabang olahraga. Akibatnya ya begitu, KONI yang membawahi sekitar 40 cabang olahraga seperti "dikecilkan" oleh para pengambil kebijakan dibandingkan dengan gemerlap PSIS di lapangan bola.

Hal itu baru di cabang olahraga, belum lagi kalau membandingkan dengan bidang-bidang lain. Ya, demikianlah adanya. Janganlah membandingkan olahraga dengan yang lain, misalnya Pasar Ikan Higienis, yang disebut-sebut sulit kembali modal, toh tetap disuntik dana. Demikian juga bidang lain, jika diresapi oleh para pembina olahraga kita, mereka hanya bisa prihatin.

Ada lagi pertanyaan untuk para penentu kebijakan itu, bagaimana sikap mereka terhadap kondisi keolahragaan di Semarang, apalagi setelah dikalahkan Kabupaten Banyumas dalam Porda yang baru lalu?

Pertanyaan tersebut sekaligus untuk melihat bagaimana cerminan sikap Pemkot Semarang, termasuk jajaran legislatif dalam memandang arti pentingnya olahraga. Dalam konteks tersebut, olahraga jangan hanya dipandang dari sisi prestasi saja, lebih dari itu sebagai sarana pembentukan karakter bangsa untuk menjadi sportif, kesatria, tangguh, dan pantang menyerah.

Jika betul demikian, dalam perspektif pembinaan sumberdaya manusia (SDM) di kalangan remaja, dilihat dari anggaran yang disediakan, perhatian Pemkot terlihat minim. Fakta rendahnya perhatian terhadap bidang olahraga juga tampak dari kebijakan Pemkot dan DPRD Kota Semarang dalam memandang perjuangan atlet.

Dalam rubrik "Piye Jal" Suara Merdeka, beberapa waktu lalu, juga terasa benar ungkapan kekecewaan masyarakat (olahraga). Beberapa komentar masyarakat yang bisa dikutip antara lain : Mengapa hanya PSIS yang dipikirkan, bagaimana cabang lain? Pak Wali, olahraga Semarang bukan hanya PSIS. Juga SMS lain yang masuk rubrik itu pada intinya mengingatkan tentang keterpinggiran bidang olahraga dari sentuhan para pejabat berwenang.

Tak Ketinggalan

Secara fisik, Kota Semarang, dalam sejarah keolahragaan Jateng, tidak kalah dari daerah lain. Bahkan, bisa disebut jauh lebih unggul. Dalam sejarah Porda misalnya, kekalahan kontingen Kota ATLAS tersebut baru sekali terjadi. Hal itu patut dianalisis lebih dalam.

Bagaimanapun juga kita perlu introspektif dalam melihat hal tersebut sebagai benhtuk kesalahan para pengambil kebijakan, khususnya menyangkut aspek atensi. Ketika daerah-daerah lain melakukan tahapan pembinaan secara teratur, sesuai kalender kegiatan di tingkat Jateng, sedangkan Semarang nyaris ''diam'' seribu bahasa.

Lompatan sukses Banyumas dalam merebut juara Porda, tentu mereka lakukan melalui tahapan pembinaan yang benar. Misalnya, semua cabang prioritas Porda dibina secara berkesinambungan. Mereka juga melakukan pemusatan latihan berkelanjutan, yang mau tidak mau memerlukan dana. Dan dalam kondisi sangat sederhana, kegairahan pembinaan bisa dipacu secara positif.

Begitulah, daerah lain sudah punya tim Porda, sedangkan Semarang masih dibingungkan sikap Pemkotnya. ''Kami belum bisa berbuat banyak, karena belum ada petunjuk dari Pemkot. Bagaimana kami harus melangkah, wong dana saja tidak punya,'' kata pengurus KONI Kota, Tohir, menjelang Porda.

Dengan demikian, apa artinya Semarang memiliki keunggulan sarana dan prasarana dibandingkan dengan daerah lain? Semua fasilitas olahraga ada di sini. Mulai dari yang sulit, seperti, sirkuit sepatu roda, lapangan golf, velodrome balap sepeda, stadion sepak bola, stadion renang, bahkan lapangan hoki.

Dari kenyataan itu, seharusnya Pemkot dan DPRD bisa mengambil kesimpulan, bagaimana menempatkan posisi PSIS (di luar tim-tim sepakbola dari klub amatir) dan olahraga Semarang dalam program pembangunan secara menyeluruh, yang sangat menentukan masa depan olahraga di Semarang. Ya, bagaimana membuat proporsinya. (18h)

- Penulis adalah wartawan Suara Merdeka


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA