| Selasa, 27 Desember 2005 | SEMARANG |
Pemkot Diminta Serius Tangani Banjir
SEMARANG - SD Kalicari 01, 02, 03 Jalan Soeprijadi untuk kali ketiga terendam air dalam 10 hari terakhir. Namun, banjir kali ini paling parah dibandingkan sebelumnya. Ketinggian air di sejumlah ruang kelas mencapai satu meter. Berdasarkan pantauan Suara Merdeka Senin (26/12), sisa air yang merendam ruang kelas terlihat dari garis-garis sisa air yang tertempel pada dinding kelas. Sementara itu, halaman sekolah yang lantainya lebih rendah terendam air lebih tinggi. Hingga pukul 10.00 kemarin, air masih merendam halaman sekolah, ruang guru, perpustakaan, dan ruang usaha kesehatan sekolah (UKS) SD tersebut. Sementara itu, sembilan ruang kelas lainnya tak luput dari sergapan air. Proses pembelajaran dan upacara bendera setiap Senin di SD itu terhenti. Semua siswa yang berjumlah 570 anak diliburkan. Banjir di SD itu merupakan kali ketiga selama Desember ini. Banjir pertama pada Jumat (16/12) merendam halaman sekolah setinggi satu meter lebih dan merendam sedikitnya 200 buku koleksi perpustakaan, buku-buku pelajaran siswa kelas I-VI, dan arsip soal untuk proses pembelajaran siswa. Selang satu pekan, Jumat (23/12), SD itu kembali terendam air setinggi 40 cm lebih. Akibatnya, ruang guru, ruang perpustakaan, dan ruang UKS ikut terendam. Pascaterendam air, kemarin, sejumlah guru, siswa, dan komponen sekolah yang lain turut membersihkan lantai ruang kelas. Kepala SD kalicari 03 Rita Hermiati SPd enggan berkomentar mengenai banjir kali ini. Pihaknya menyarankan wartawan untuk meminta dinas terkait seperti DPU untuk berkomentar. ''Wis kesel aku. Kalau mau minta penjelasan, tolong jangan ke kami,'' ujarnya. Penanganan Serius Sementara itu, sejumlah orang tua siswa yang sedianya menjeput putra-putrinya hanya memandangi sekolah dari pagar luar. Mereka tidak bisa masuk ke halaman lantaran air merendam lebih dari satu meter. Salah seorang orang tua siswa, Semah (56), berharap, Pemkot serius menangani banjir di SD itu. Sebab, selama ini penanganan banjir di SD tersebut hanya sporadis. Ketika SD itu kebanjiran, dinas terkait baru mengeruk saluran air yang tersumbat sampah yang berada di perempatan Jalan Soekarno-Hatta dengan Jalan Supriyadi. ''Kalau hanya dikeruk, jika hujan turun ya banjir datang lagi. Begitu seterusnya. Padahal, saat ini memasuki musim hujan. Apa Pemkot tak memiliki cara yang lebih cerdas dan berorientasi ke depan? Bukan cuma main keruk semata?'' Sementara itu, Kepala DPU Kota Semarang Acmad Kadarisman ST MM mengatakan, pihaknya Minggu malam langsung mengerahkan peralatan untuk menangani genangan di Jalan Supriyadi. Menurut keterangan dia, genangan di lokasi tersebut bukan hanya akibat pendangkalan Kali Tenggang tetapi juga akibat ketersumbatan gorong-gorong di perempatan Jalan Soekarno Hatta - Jalan Supriyadi. ''Sumbatan tersebut akibat ada pipa PDAM yang melintang di dalam saluran,'' ujar dia. Pada saat hujan, banyak sampah tersangkut di pipa itu dan akhirnya menumpuk. Karena itu, upaya yang dilakukan oleh DPU adalah membongkar gorong-gorong tersebut, membersihkan sampah, serta mengeruk sendimen. Pihaknya juga sudah meminta PDAM untuk memindah saluran tersebut. PDAM, ujar Achmad, bisa menaikkan atau menurunkan pipa itu dan yang penting tidak menyumbat. Pihaknya menargetkan, Selasa ini perbaikan itu sudah rampung. ''Untuk sementara kami berusaha mengurangi genangan di SD Kalicari dan sekitarnya dengan menggunakan pompa,'' imbuh dia. (H7,G6,fzm-18j) |