| Selasa, 27 Desember 2005 | SEMARANG |
Ragam Makna dalam Corak BatikPENGALAMAN seseorang di waktu kecil, seringkali menjadi kenangan tak terlupakan. Kenangan tersebut sulit untuk melupakan masa itu. Tidak semua kenakalan yang pernah dilakukan seseorang akan berakibat buruk. Terkadang, melalui hal seperti itu justru menjadikan seseorang memiliki nilai lebih dibandingkan orang lain. Hal itu pula yang terjadi dalam diri Murdokusumo, salah seorang ibu rumah tangga, yang masih peduli terhadap perkembangan batik. Pemilik nama kecil Sri Murdiatun itu adalah salah seorang anggota perkumpulan pembatik Sekar Jagat. Dia mengaku sangat tertarik dengan batik, khususnya corak Yogyakarta. Meski bukan perajin, kepiawaiannya dalam memainkan canting di atas mori, yang sudah digambari dengan corak batik, patut diacungi jempol. Kepandaiannya itu diawali dari kenakalan yang dilakukannya sewaktu kecil. "Waktu itu, kebetulan ibu saya memiliki banyak pembantu yang diutus (disuruh) untuk membatik. Waktu masih kecil, saya suka ngrusuhi mereka,'' ujarnya, dengan logat Jawa yang medok, saat dijumpai Suara Merdeka dalam Gelar Batik Tulis Kebumen di ruang Borobudur Hotel Graha Santika, Sabtu (24/12). Lambat laun, berawal dari ngrusuhi itulah, kakak Sri Sultan Hamengku Buwono X itu menjadi tertarik belajar membatik. Di bawah bimbingan sang ibu, akhirnya dia mahir. Kemahirannya tidak hanya dalam membuat batik belaka, namun juga mampu mengetahui makna apa yang tersirat dalam setiap corak batik. "Bagi saya, membatik tanpa mengetahui makna coraknya seperti sayur tanpa garam," ungkapnya sambil tersenyum. Ragam Makna Corak Teruntum misalnya, menurut Murdo, lazimnya digunakan pasangan pengantin. "Gambar bunga kecil-kecil yang berkumpul menjadi satu memiliki makna supaya pasangan pengantin tersebut akan terus bersama-sama dan rukun,'' kata dia. Corak Cakar Ayam juga memiliki makna yang tak kalah penting dibandingkan corak lain. Corak tersebut, lanjutnya, digunakan pengantin saat acara siraman. Diharapkan oleh sesepuh dahulu, pengantin yang menggunakan corak itu nanti pintar mencari nafkah, seperti ayam yang pintar mencari makan memakai cakarnya. Namun, tidak semua corak batik bisa digunakan para pengantin. Ada beberapa motif yang pantang digunakan oleh pengantin. Motif Parang Rusak misalnya. "Konon, jika seorang pengantin menggunakan motif itu, kehidupan rumah tangganya tidak akan bahagia. Bahkan, mereka bisa pegatan (bercerai),'' tandasnya. Sementara itu, Moeljono Trastotenojo, salah seorang ibu rumah tangga yang juga peduli dengan batik, mengaku kecintaannya berawal dari hobi. Lewat hobi yang ditekuninya itu, akhirnya dia mahir dalam membatik. Kasih sayangnya sebagai seorang ibu kepada anaknya pun diwujudkan dalam corak batik hasil karyanya. "Motif Kukilo ini saya buat sendiri untuk anak saya. Kain itulah yang mereka kenakan di hari pernikahan mereka,'' tuturnya sembari tersenyum. Di samping itu, istri dari Profesor Moeljono SpAK itu juga mahir membuat motif lain, seperti, Garuda dan Jahe Srimpang. Tak semua motif digunakan sebagai kain jarik. Beberapa motif, seperti penggambaran lakon percintaan Rama dan Sinta dalam pewayangan, dijadikan hiasan dinding yang menarik. (Roosalina, Hernandhono-18h) |