logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 27 Desember 2005 SEMARANG
Line

Urai Kemacetan, Belum Ada Jalur Alternatif

SEMARANG - Banjir yang menggenangi ruas Jalan Kaligawe berimbas kepada kemacetan arus lalu lintas dari dua arah. Diperkirakan, keadaan itu akan berlangasung selama musim hujan saat ini. Untuk itu, jalur alternatif untuk memecah kepadatan arus lalu lintas sangat dibutuhkan.

Kapolres Semarang Timur, AKBP Juhartana MSi, melalui Kasatlantas, AKP Ferry Sandy Sitepu, mengemukakan, kondisi jalan yang berlubang dan selalu tergenang air bila diguyur hujan harus dicarikan jalur alternatif. Dari arah timur, pihaknya akan mengalihkan arus lalu lintas dari Kaligawe (Pasar Genuk) melintasi Jalan Wolter Monginsidi. Selanjutnya, arus lalu lintas melintasi Jalan Arteri Soekarno-Hatta.

''Bila kondisinya makin parah, bukan tidak mungkin arus kendaraan ringan akan dialihkan ke Jalan Wolter Monginsidi. Sementara itu, dari arah barat dialihkan ke dalam kota, kemudian melintasi Jalan Citarum menuju Jl Arteri Soekarno-Hatta,'' paparnya.

Namun, dia mengakui, ada kendala dalam mencarikan jalur alternatif. Sebab, jalur yang ada, umumnya memiliki jalan sempit, jarak tempuh yang cukup jauh, dan kurang layak. Untuk itu, menurut dia, sudah waktunya Jalan Kaligawe dibuatkan jalan layang atau jalur lingkar untuk memecah konsentrasi arus lalu lintas yang makin padat.

Dia juga menyayangkan sikap sebagian warga yang kurang bertanggung jawab terhadap fasilitas umum, berupa rambu-rambu lalu lintas di sekitar Jalan Kaligawe. Banyak rambu yang telah dipasang di sejumlah sudut jalan itu raib. Namun, dia belum bisa memastikan, apakah dicuri orang atau hal lain.

Rambu Hilang

''Contohnya, dua rambu-rambu yang dipasang di sekitar persimpangan Jalan Tol Muktiharjo hilang. Karena itu, saya sengaja perintahkan para anggota agar sementara waktu mengambil rambu-rambu lainnya supaya tidak hilang. Bila situasi kembali darurat, rambu-rambu itu akan dipasang kembali. Kalau rambu-rambu dibuat dari bahan kayu atau triplek, tentunya daya tahan terhadap cuaca tidak lama,'' katanya.

Hasil pengamatan Suara Merdeka , di Semarang ini tidak ada jalur alternatif yang tepat dan efisien sebagai jalur alternatif. Jalur-jalur yang ada, sebagian kondisi jalannya kurang layak dan yang lain memiliki jarak tempuh cukup jauh.

Kondisi jalur alternatif yang kurang layak terlihat di Jalan Raya Muktiharjo Raya. Sepanjang ruas jalan tersebut, di beberapa titik, ambles, berlubang-lubang, dan tergenang air. Di samping sempit, hanya bisa dilalui kendaraan ringan, seperti, sepeda, motor, mobil, dan truk engkel.

Jalur alternatif itu menghubungkan pemakai jalan dari Jalan Kaligawe menuju ke Jl Woltermonginsidi (tepatnya di jembatan layang Bangetayu) atau sebaliknya. Jarak tempuh Kaligawe menuju ke Batas Kota Semarang-Demak yang seharusnya cukup 3 atau 4 km saja, kenyataannya menjadi sekitar 15 km.

Demikian pula, pemakai jalan mengambil jalur alternatif di Jalan Citarum. Agar sampai ke Kaligawe, tepatnya ke perbatasan kota, ditempuh sekitar 30 km. Belum lagi, terjebak macet di ruas Jalan Citarum, karena lalu lalang penyeberang jalan kawasan permukiman di Citarum dan Citandui serta keluar masuk pengunjung RS Panti Wilasa.

Jarak tempuh makin jauh, bila pemakai jalan mengambil jalur alternatif memasuki jalan tol. Pemakai jalan harus memutar cukup jauh mencapai 30 Km lebih. Dari arah Pelabuhan Tanjung Emas, pemakai jalan memasuki gerbang Tol Muktiharjo, kemudian keluar menuju ke gerbang Tol Gayamsari, atau sebaliknya. (G5-18h)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA