logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 27 Desember 2005 KEDU & DIY
Line

Ada yang Menilai Pembangunan di Kota Magelang Stagnan

SELAMA tahun 2005, pembangunan di Kota Magelang bisa dikatakan stagnan. Sebab selama enam bulan, kota ini tidak memiliki kepala daerah yang definitif. Periode pertama yang dijabat H Fahriyanto, berakhir 5 Februari 2005. Melalui pilkada yang berlangsung 27 Juni 2005, H Fahriyanto terpilih lagi dan dilantik untuk masa jabatan kedua pada 29 Agustus 2005.

Pengurus Yayasan Kesetiakawanan Warga Magelang Sudharmono mengatakan, selama enam bulan tersebut, kepala daerah dipegang pejabat wali kota, yang tentunya tidak bisa mengambil keputusan bersifat strategis. Pembangunan yang dilakukan hanya bersifat rutin dan administrasi. Tidak ada terobosan untuk menambah fasilitas kota.

Problem yang sampai sekarang belum bisa dirampungkan H Fahriyanto sejak masa jabatan pertama adalah penataan pedagang kaki lima (PKL). Memang PKL menjadi ''problem'' di semua kota, termasuk Kota Magelang. Keberadaan mereka untuk mencari makan, setelah terjadinya krisis moneter 1997 yang menyebabkan banyak orang di-PHK.

Wali Kota Magelang mengatakan, Pemkot tidak akan menggusur PKL tetapi melakukan penataan. Program yang dilaksanakan itu antara lain, pedagang makanan seperti warung tenda hanya boleh berjualan malam hari di seputar alun-alun, Jalan Sudirman, A Yani, Tidar dan lainnya, pagi hari tendanya harus dibongkar. Tujuannya supaya siang hari Kota Magelang keadaannya bersih.

PKL di Jalan Pemuda yang menjajakan aneka barang, tempat jualannya juga diatur. Lokasinya harus di tembok pembatas antara toko yang satu dengan lainnya, sehingga tidak mengganggu toko-toko tersebut. Yang sampai saat ini belum bisa diatur adalah PKL di Jalan Mataram, depan Pasar Rejowinangun Kota Magelang. Mereka menggunakan jalan untuk berjualan makanan, sehingga badan jalan menjadi sempit.

''PKL memang mendesak segera ditata, dan ini perlu pemikiran yang jeli. Kalau sudah ditata, pengawasannya juga harus ketat dan kontinyu. Tidak boleh PKL menutupi toko. Karena itu, jam berjualan juga harus diatur,'' papar Ir H Bambang Surendro MT, rektor Universitas Tidar Magelang.

Dia sependapat dengan Sudharmono, kalau pembangunan di kota ini selama tahun 2005 bisa dikatakan stagnan. Salah satu penyebabnya, selama enam bulan dipegang pejabat wali kota, dan baru akhir Agustus wali kota yang definitif dilantik.

Sebagai Kota Jasa, tambahnya, Kota Magelang masih harus menambah banyak fasilitas. Seperti jasa pendidikan, yakni banyaknya pelajar dari daerah tetangga menuntut ilmu di sini. Pendidikan masih bisa dikembangkan lagi karena peluangnya masih lebar.

Jasa pariwisata, Kota Magelang sudah memiliki Taman Kiai Langgeng yang namanya sudah dikenal di seluruh Indonesia. Yang dinilai masih kurang oleh Bambang Surendro adalah fasilitas hiburan. ''Jika sudah dilengkapi dengan berbagai macam hiburan, Kota Magelang bisa menjadi kota satelit,'' tuturnya.

Grengseng untuk menciptakan kota yang bersih sudah mulai jalan. Wali Kota Magelang menginstruksikan, setiap hari Jumat akhir bulan dilaksanakan kegiatan bersih-bersih kota. Harapannya, di masa depan kebersihan bisa menjadi budaya bagi masyarakat Kota Magelang.

Mengenai Magelang ke depan, Sudharmono yang juga pemilik Hotel Puri Asri mengajak H Fahriyanto untuk ''lari kencang''. ''Selama ini sudah jalan tetapi belum banter atau kencang. Setahun itu cepat, kalau tidak lari akan terus ketinggalan,'' ujarnya.

Menurutnya, ada empat pekerjaan yang harus diselesaikan H Fahriyanto pada masa jabatannya yang kedua. Pertama, melakukan renovasi Pasar Rejowinangun untuk mengatasi kesemrawutan di Jalan Mataram dan penataan PKL. Kedua, penataan di kawasan Magelang Theater. Ketiga, parkir di sekitar Trio Plaza. Dan terakhir, pembangunan kota satelit di Sidotopo.

Kawasan Sidotopo akan dibuat semacam pusat bisnis dan perumahan. Hal ini harus secepatnya terealisasi, sehingga terjadi penyebaran keramaian kota. Mengingat, selama ini keramaian hanya terpusat di tengah kota. ''Saya juga akan mengubah bekas terminal lama di Jalan Ikhlas seperti mal tetapi ukuran kecil, agar keramaian kota menyebar,'' tutur Sudharmono yang juga pengurus Paguyuban Umat Beriman Magelang (PUBM). (Doddy Ardjono-39d)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA