| Selasa, 27 Desember 2005 | KEDU & DIY |
Stroke Mengancam KehidupanYOGYAKARTA - Stroke merupakan penyakit saraf yang paling mengancam kehidupan. Menurut pakar penyakit saraf UGM Prof Dr Harsono SpS(K), di seluruh dunia stroke memberikan sumbangan kematian sebesar 10 persen. Di samping itu, stroke juga merupakan penyebab utama terjadinya kecacatan dan ketidakmampuan fisik serta mental, dan memerlukan perawatan cukup lama di rumah sakit yang menelan biaya tinggi. Pada dialog interaktif ''ABC, Masalah Stroke'' yang diadakan oleh Dharma Wanita Persatuan FK UGM, menandai dies natalis ke-60 FK sekaligus Hari Ibu, di auditorioum II FK Sabtu (24/12), dosen FK UGM itu menyatakan, pemberian obat-obatan dan tindakan pembedahan untuk mencegah terjadinya stroke memerlukan biaya yang tidak sedikit, kesadaran serta ketaatan penderita atau keluarga, dan mengandung risiko yang tinggi. Risiko seseorang mengalami stroke meningkat sejalan dengan bertambahnya umur, yaitu setelah berusia 55 tahun maka setiap kelipatan 10 akan meningkatkan faktor risiko menjadi dua kali lipat. Kemungkinan yang terjadi pada laki-laki dan perempuan adalah sama. Namun pada perempuan, stroke menyerang saat usia tua. Orang negro di Amerika (Afro-Americans) mempunyai risiko 60 persen lebih tinggi daripada negro yang berdomisili di Afrika. Risiko mengalami stroke pada seseorang akan lebih tinggi apabila ada riwayat stroke pada orang tua atau kakek/neneknya. Storke atau transient ischaemic attack (TIA), sebelumnya merupakan faktor risiko yang paling penting, karena keduanya menunjukkan adanya patologi vaskular yang signifikan. Satu dari enam penderita stroke iskemia yang bertahan hidup selama dua tahun akan mengalami stroke ulangan. Dikatakan bahwa seseorang yang mengalami satu kali atau lebih TIA, memiliki risiko 10 kali lipat mengalami stroke dibandingkan dengan kelompok umur dan jenis kelamin yang sama.(P12-39d) |