| Selasa, 27 Desember 2005 | KEDU & DIY |
Mahasiswa UGM Menuntut Realisasi Perumahan di AcehYOGYAKARTA - Bertepatan dengan peringatan tragedi tsunami di Aceh, kemarin (Senin, 26/12), sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) UGM mengadakan aksi dan menuntut kepada pemerintah segera merealisasikan program pembangunan perumahan bagi warga serta menyelesaikan persoalan kepemilikan lahan sebelum terjadi konflik horizontal. Para mahasiswa tersebut menggelar mimbar bebas di Bundaran Bulaksumur sambil mengibarkan bendera BEM serta membawa poster-poster yang isinya mempertegas tuntutannya. Sementara itu, para aktivis bergantian menyampaikan orasinya. Menurut Departemen Sosial Masyarakat BEM, Sherly S Panambang, bencana tsunami telah meluluhlantakkan 800 kilometer garis pantai dan lebih dari 130.000 orang dinyatakan tewas serta 37.000 orang hilang. Tragedi itu juga menyebabkan sekurang-kurangnya 500.000 orang kehilangan tempat tinggal. Pemerintah cukup tanggap dengan membentuk Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) di Aceh, namun sampai hari ini tidak dapat disangkal bahwa sekitar 67.500 pengungsi masih tinggal di tenda-tenda pengungsian, 50.000 orang tinggal di barak, dan sekitar 70.000 orang tinggal menumpang di tempat keluarga. Transparan Dikatakan, BRR sebagai koordinator proses rekonstruksi dan rehabilitasi Aceh hendaknya menjadi institusi yang transparan dalam melakukan kinerjanya, apalagi lembaga itu bertanggung jawab atas pengelolaan dana yang besarnya cukup fantastis, yaitu 7,1 miliar dolar. Karena itulah, dalam aksinya para aktivis menegaskan dan meminta kepada pemerintah untuk melakukan rekonstruksi pada bidang pendidikan, bantuan logistik, serta pembinaan sosial dan agama. Sementara itu, infrastruktur penopang aktivitas ekonomi masyarakat harus segera direalisasikan.(P12-39d) |